Menikah

Pada detik-detik paling sakral, saat akad nikah sedang khidmat-khidmatnya digelar, masa kecil yang indah dan tak mungkin kembali justru hadir seperti bayang-bayang yang merasuk-mendalam. Barangkali seperti guntingan-guntingan slide film yang disaksikan dengan mata berkaca oleh Salvatore di Vita pada bagian akhir film hebat “Cinema Paradiso”.

Semua detail dan rangkaian prosesi akad nikah itu saya ikuti dengan takzim. Pada setiap detail dan tahapan prosesinya, saya merasa masa silam terkelupas satu demi satu, selapis demi selapis, lalu lindap begitu saja menjadi sebuhul pengertian tentang apa artinya masa kecil dan apa pula makna persahabatan di antara empat anak laki-laki yang kini sudah bukan bocah lagi.

Pagi itu, empat sahabat dari masa silam berkumpul kembali. Salah satu di antaranya, namanya Asep Rusdiana, seorang sarjana teknik lulusan UNDIP, melangsungkan pernikahan dengan seorang perempuan cantik dengan mata indah serta senyum yang selalu terasa pas, namanya Sulastri. Tiga lainnya adalah Wawan Suwandi, seorang buruh pabrik di Bogor yang menikah pada 2005 dan sudah dianugerahi seorang anak serta Karyono, seorang pedagang bakso di Cirebon yang menikah setahun lalu. Satunya lagi, ya… saya ini.

Saya merasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya bermain bola dengan Asep di lapangan bola dekat sungai berair bening itu. Rasanya baru kemarin saya memboncengnya naik sepeda untuk pergi ke madrasah tempat kami belajar agama selepas dzuhur.

Saya punya banyak sekali kenangan masa kecil dengannya. Kami berdua menghabiskan masa SD pada pagi hari (dengan Wawan dan Karyono), sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah selepas dzuhur (bersama Wawan, sementara Karyono tak selesai di Madrasah), mengaji di “tajug” (surau) Abah Juli selepas maghrib (kami berempat mengaji di tempat yang sama), menghabiskan masa SMP di SMPN-1 Karangsembung (berdua dengan Asep, karena Wawan dan Karyono sekolah di SMP yang lain).

Kami berempat selalu bersaing dalam pelajaran di SD. Saya bergantian rangking satu dengan Asep, sementara Karyono dan Wawan rebutan rangking tiga dan empat. Sewaktu hasil EBTANAS diumumkan, peta rangking berubah: saya rangking empat, Wawan rangking tiga, Asep rangking dua, sementara rangking pertama tiba-tiba diisi oleh teman perempuan kami, namanya Dede Ela Sulastri, sarjana pertanian lulusan UGM yang pada Juli depan juga akan melangsungkan pernikahan dengan lelaki dari Jogja.

Memasuki masa SMA, kami berempat berpisah sekolah. Tapi persahabatan terus berlanjut karena setiap sore, selepas sekolah, kami selalu menghabiskan waktu bersama, bermain bola di lapangan. Kami berempat selalu menjadi starter di kesebelasan kampung. Karyono sebagai kiper, Wawan sebagai sayap kanan, Asep sebagai gelandang bertahan dan saya sebagai striker. Posisi yang sama itu berlanjut di kesebelasan Kecamatan sewaktu digelar turnamen Bupati Cup. Saya sendiri menjadi kapten kesebelasan dan terpilih memerkuat kesebelasan Cirebon dalam Piala Haornas dan –lagi-lagi—dipercaya sebagai kapten kesebelasan.

Tapi, di antara empat sahabat kecil itu, saya memang paling dekat dengan Asep. Kedekatan dua bocah ini juga mendekatkan dua keluarga. Kami berdua layaknya saudara. Tanggal lahir kami hanya berselisih 20 hari, saya 16 April dan Asep 6 Mei. Tahun kelahirannya sama.

Asep seorang bocah yang lurus hati, jujur, dan tulus. Ketulusannya, saya kira, tergambar dari wajahnya yang selalu bersih dan bersinar. Saya tak pernah meragukan kesalehannya. Masa kuliah pun dilaluinya dengan lurus-lurus saja. Saya kadang merasa karakter kami berselisih 180 derajat. Sedari kecil saya selalu paling jahil, paling badung, selalu mengajaknya bolos sekolah dan membujuknya untuk lebih baik bermain bola saja. Saya selalu memanfaatkan kepolosannya untuk mengajaknya main ke tempat yang saya inginkan.

Waktu kecil dulu, Asep adalah bocah dengan fisik yang terlihat paling ringkih dibandingkan tiga orang lainnya. Saya selalu merasa punya fisik lebih baik, bukan hanya dibandingkan Asep tapi juga dengan yang lain –satu klaim yang saya kira tak bisa lagi dipertahankan setelah saya menginjak tahun ketiga kuliah.

Tapi daya tahan fisik saya waktu kecil hingga SMA memang tangguh. Ssekali saya menantang tiga teman saya untuk berkejaran siapa yang lebih dulu sampai di sekolah madrasah. Ini adu balap antara Asep, Wawan dan Karyono yang naik sepeda, sementara saya sepenuhnya mengandalkan kaki dan berlari. Saya sering memenangkan adu balap ini. Dengan berlari menyelinap di antara gang-gang kecil, sela-sela rumah penduduk dan menerobos kebun bambu dan kebun kacang, saya lebih sering tiba di madrasah lebih dulu.

Sewaktu pertama kali menonton film “Forrest Gump”, yang tokoh utamanya diperankan Tom Hanks dan dikisahkan selalu berlari, saya langsung ingat masa kecil itu tadi.

Dulu saya selalu berlari, berlari dan berlari. Jika diperintahkan ibu untuk pergi ke pasar, saya pasti pergi dengan berlari. Tiap pagi saya berlari. Minggu pagi saya rutin berlari sejauh 10 kilometer. Pada masa SMA, sepulang sekolah, sekitar jam 2 siang, saya juga berlari di lapangan bola. Saya pernah mencatat waktu 11,9 detik untuk menempuh jarak 100 meter. Pada 1989, Mardi Lestari memecahkan rekor Asia untuk lari 100 meter dengan catatan waktu 10,20 detik.

Sorenya, selepas ashar, saya kembali berlari, kali ini dengan bola di kaki. Saya sering memanfaatkan sprint saya untuk mengelabui bek-bek lawan. Asep, sebagai gelandang, sering memanjakan saya dengan bola-bola terobosan yang akan saya kejar sekuatnya, saya kontrol sekali, lalu sering saya akhiri dengan shooting. Kami berdua sering berlatih sendiri. Asep berlatih mengirim umpan-umpan terobosan, sementara saya berlatih mengejar bola-bola terobosan itu dan berlatih memertajam penyelesaian akhir.

Asep seorang gelandang bertahan yang tangguh. Fisiknya yang terlihat ringkih tak akan terlihat jika sudah berada di lapangan. Jika kesebelasan kami bertemu dengan musuh yang diperkuat seorang striker yang licin, Asep bisa berubah menjadi seorang stopper yang liat mengikuti ke mana pun pergerakan striker lawan.

Saya juga sering mengejar layang-layang. Saya tidak begitu ahli bermain layang-layang. Wawan dan Karyono jauh lebih jago. Jadinya, saya lebih sering mengejar layang-layang yang putus, mengejarnya ke mana pun, ke sawah, ke kebun tebu, ke mana pun. Asep selalu mengikuti saya di belakang. Jika layang-layang itu bisa saya dapatkan, saya dengan senang hati menyerahkannya pada Wawan atau Karyono.

Ah, jika sudah ingat fragmen mengejar layang-layang itu, rasa-rasanya saya seperti Hasan dalam cerita indah tentang persahabatan dua sahabat, “The Kite Runner”, yang ditulis Khaleed Housaini.

Beberapa saat sebelum akad nikah, Asep bertanya apa saya masih sering berlari. Saya jawab: tidak. Tapi, kata saya lagi, saya masih terus berlari, tidak dengan kaki, tapi dengan pikiran saya.

“Apa yang kamu kejar? Kaki langit? Masak kaya Yonkuro,” katanya setengah bercanda. Yonkuro adalah karakter utama dalam film kartun yang kami sering tonton waktu kecil. Yonkuro adalah seorang “pembalap” mobil-mobilan tamiya. Dia selalu berlari mengejar kaki langit, menuruti petuah ayahnya, seorang pembalap yang raib dan tak pernah lagi dilihat Yonkuro.

Saya tersenyum mendengar pertanyaan Asep. “In the long run, men only hit what they aim at”. Kata-kata Henry David Thoreau, penulis cerita ekologis yang sudah menjadi klasik, “Walden”, hanya saya ucapkan dalam hati saja.

Jika libur tiba, kami sering menghabiskan waktu di sungai. Dengan menggunakan ban mobil bagian dalam yang sudah dipompa, kami mengarungi sungai dengan duduk di atasnya, melewati batu-batu besar, melewati lubuk-l
ubuk sungai yang dalam, laiknya melakukan olahraga arung jeram. Pulangnya, kami selalu mampir di kebun tebu, mencuri tebu dan menggunakannya untuk mengusir rasa haus.

Ada satu tempat favorit kami. Di tengah sawah, ada pohon mangga besar dan rindang. Itulah satu-satunya pohon besar yang ada di tengah hamparan sawah yang terletak di sebelah selatan kampung. Pohon rindang itu terlihat dari jauhan karena pohon itulah satu-satunya dan pohon itu pula yang tertinggi. Di bawahnya ada sungai kecil dengan airnya yang jernih. Kami sering mencuci pakaian kami yang kotor di situ, bergantian, sementara yang lain duduk-duduk manis di atas dahan-dahan pohon mangga dengan kaki berjuntai ke bawah.

Di sela-sela acara main-main itu kami sering bercakap-cakap, tentang Persib Bandung dan Robby Darwis, tentang teman-teman perempuan kami yang cantik, tentang rencana menonton layar tancap, tentang rencana “rurugan” (adu tanding) bola dengan anak-anak kampung sebelah, tentang cita-cita dan masa depan, tentang banyak hal.

Salah satu percakapan yang masih berdentang nyaring dalam ingatan, dan sempat kami percakapkan kembali beberapa saat sebelum akad nikah Asep dilangsungkan, adalah soal pertaruhan masa kecil dulu tentang siapa yang paling akhir akan menikah di antara kami. Waktu itu kami bertaruh: siapa yang menikah paling belakangan berhak meminta apa saja dari tiga teman lainnya.

Sejak dulu saya sudah sangat yakin bahwa saya yang akan memenangkan pertaruhan ini. Dan saya memang memenangkannya!

Semua-mua ingatan itu hadir kembali pada akad nikah yang saya saksikan itu. Rasanya baru kemarin semuanya berlangsung. Tiba-tiba saja Asep sudah menikah dan tiba-tiba saja hanya saya sendiri yang belum. Begitu cepat rasanya waktu berlalu. Ya, sangat cepat.

Saya merayakan pernikahan Asep sebagai momentum terbaik untuk mengenang dan merenungkan semua masa kecil yang sangat indah itu, masa kecil yang nyaris tanpa cactat itu. Pengalaman masa kecil tadi sangat berharaga dan –bagi saya—tak kalah dengan cerita masa kecil Andrea Hirata seperti yang pernah saya baca pada “Laskar Pelangi”.

Sewaktu keluarga Asep sendiri sudah pulang dari resepsi, Wawan dan Karyono pun sudah pulang ke kediaman masing-masing, saya memilih untuk tetap di tempat pernikahan, menemani Asep melewati hari terhebatnya. Saya duduk di pojok hingga menjelang Isya’. Sendirian.

Kontemplasi Milan Kundera tentang persahabatan, seperti ditulisnya dalam novelet “Identity” (yang saya baca dari terjemahan Mas Landung), rasanya begitu pas direnungkan pada momen-momen begini.

Teman masa kecil, kata Kundera, adalah cermin bagi kita, cermin yang memantulkan masa silam kita. Teman masa kecil dibutuhkan untuk menjaga keutuhan masa silam, untuk memastikan bahwa diri tidak menyusut, tidak mengerut, bahwa diri tetap bertahan pada bentuknya. Untuk itu, ingatan mesti disiram seperti bunga dalam pot. Karenanya kita memerlukan kontak dengan teman dan sahabat masa kecil, sebab merekalah saksi mata dari masa silam.

Saya tidak meminta apa-apa pada mereka kecuali bahwa mereka mengelap-lap cermin itu dari waktu ke waktu supaya saya bisa melihat diri sendiri di situ.

Ya, kalian bertiga adalah cermin bagi saya.

Printed from: http://pejalanjauh.com/2008/05/menikah/ .
© Pejalanjauh 2010.

15 Comments   »

  1. ipungmbuh sh says:

    hmm..akhir2 ini cenderung “humanis” zen? lg jatuh cinta po?
    kekekeke

    [Reply]

  2. haris says:

    tulisan yg mengharukan. sangat lembut. he2.

    [Reply]

  3. Astri says:

    Zen, kono, ndang nyusul…si Ann ndang dilamar wae… :D

    [Reply]

  4. daus says:

    Zen, itu motret pakai kamera barumu ya?

    [Reply]

  5. endik tea says:

    kowe lagi melankolis to.. aku ngerti tambane.. sok ng HI tapi uruni yo, sak set wae, balibul wis ora doyan saiki mbuh ngopo.. yen ndilalah tepar turu ng bon kacang wae

    [Reply]

  6. mikow says:

    semoga cepat menyusul asep yo dab :)

    [Reply]

  7. Anonymous says:

    anjrit, tiga paragraf terakhirnya mantabbbbssss bener. renungan ttg persahabatan yg bagus banget, mas. jadi iri dg orang2 yg masa kecilnya di desa. hiks hiks….

    – darius –

    [Reply]

  8. kw says:

    selamat untuk mas asep. :)
    semoga lebih ceria ada isteri di sampingnya..

    [Reply]

  9. Anonymous says:

    Nikahnya nanti aja kamu Mas, kalau aku sudah jadi sarjana. Biar aku bisa berlama-lama saat acara “diraja”mu itu. Saiki lagi garap skripsi je.

    [Reply]

  10. SiMungiL says:

    Iyah, tulisannya terasa dalam hati, benarbenar dibuat dengan ‘perasaan’ cukup dalam :)

    salam buat kang asep, selamat menempuh hidup baru…

    [Reply]

  11. cewektulen says:

    kadang kita memang melihat diri kita dari orang lain…

    [Reply]

  12. sigit says:

    aaie… nikah. Zen lo kpn nyusul? (retorika)

    [Reply]

  13. Chic says:

    kalo terus menerus berlari, kapan singgah menetapnya Mas? Ga capek po? hehe

    [Reply]

  14. theloebizz says:

    huuuaaaa…..
    jd gitu yah rasanya menjadi yg “belakangan” hehehe *peace*

    sepertinyah sy justru jd pembuka nih :)

    [Reply]

  15. 412y says:

    salam kenal…
    tulisan nya bagus sekali…
    jadi inget temen2 masa kecil dulu… :)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment