Selasa, Maret 25, 2008

Isyarat Kematian di Langit Gunung Kidul

-- scriptopedia kematian (3)

Isyarat kematian itu selalu datang tanpa permisi, tiba-tiba dan tak berbelas kasih.

Ia selalu datang di sekitar atau menjelang tengah malam. Biasanya, kedatangannya didahului oleh hembusan angin sepoi-sepoi yang menegakkan bulu kuduk. Jika sudah demikian, bersiaplah mendongakkan kepala, picingkan mata setajam-tajamnya, perhatikan pucuk-pucuk pohonan di sekeliling dan pastikan apakah Anda melihat pijar bola api berwarna merah semu kuning yang menyemburatkan sinar bercorak kebiruan dengan ekor sinar yang bisa mencapai panjang dua meter.

Jika sepasang mata Anda benar-benar melihatnya, silakan berdoa agar pijar bola api itu tidak melesat cepat ke arah Anda atau ke tempat di mana Anda sedang bermukim. Sebab jika benar, bersiaplah untuk menikmati hari-hari terakhir Anda menghirup kehidupan.

Orang-orang di Gunung Kidul menyebutnya sebagai “pulung gantung”. Pijar bola api yang gentayangan di tengah malam itu dipercaya sebagai isyarat kematian yang hampir mendekati kepastian. Semacam sasmita (pertanda) yang nyaris menjadi pepasten (kepastian), dalam istilah orang Jawa.

Bagi orang yang sering membaca literatur tentang kebudayaan Jawa, istilah “pulung gantung” yang menguarkan aroma horor kematian yang menggidikkan sepintas terdengar ganjil.

Dalam kosa kata kebudayaan Jawa, Istilah “pulung” sering disepadankan dengan “wahyu” (lihat Kamus Jawa-Kawi yang disusun CF Winters dan RNg. Ranggawarsita). Per definisi, “pulung” atau “wahyu” di situ berarti “isyarat bahwa Tuhan atau (kadang) leluhur memberikan restu pada orang tersebut untuk menjadi pemimpin atau penguasa”.

Orang Jawa mengenalnya sebagai “wahyu keprabon”. Biografi para penguasa tlatah Jawa yang ditulis dalam banyak babad, syair atau legenda selalu diselipi cerita mengenai “wahyu/pulung keprabon” ini. Ben Anderson, dalam kertas kerja yang diterbitkan oleh Miriam Budiarjo pada 1991, pernah menjlentrehkan istilah “pulung” atau “wahyu kesakten” untuk memahami konsepsi kekuasaan Jawa.

Dalam pemahaman umum orang Jawa, “pulung” juga dianggap sinonim dengan segala hal yang berbau kemuliaan, kebahagiaan, berkah, anugerah, kabegjan. Jika seseorang dengan cara yang mudah tiba-tiba mendapatkan sesuatu yang baik dan membahagiakan, orang Jawa biasa berujar: “Ketiban pulung” (kejatuhan berkah).

Tapi lain cerita jika di belakang kata “pulung” itu disematkan kata “gantung” alias “pulung gantung”. Tak ada satu pun orang di Gunung Kidul yang akan bersyukur jika rumahnya “ketiban pulung gantung”. Sebabnya sederhana tapi berefek amat serius: “pulung gantung” dianggap sebagai isyarat kematian, persisnya kematian dengan cara gantung diri.

Kepercayaan macam ini masih bertahan dengan kuat di banyak sekali wilayah di Gunung Kidul, terutama di pelosok-pelosok desa yang terpencil. Mereka percaya bahwa salah seorang warga yang rumahnya berada di sekitar lokasi jatuhnya pulung gantung akan melakukan bunuh diri dengan teknik gantung diri (beberapa kasus kadang dengan menceburkan diri ke sumur, tapi angkanya relatif kecil).

Dan mereka percaya ini tak bisa dicegah. Pepasten. Kepastian. Orang yang rumahnya berada di sekitar lokasi jatuhnya pulung gantung biasanya akan berusaha menghindari maut dengan cara menggelar selamatan atau pengajian sembari berjaga siang dan malam. Akan tetapi pulung gantung tetap akan memakan korban. Jika tidak orang yang rumahnya kejatuhan pulung gantung, maka korban akan muncul dari kerabat pemilik rumah atau jika tidak dari tetangga yang berdekatan dengan lokasi jatuhnya pulung gantung.

Ketika akhirnya muncul korban gantung diri, horor kematian tak berhenti sampai di situ. Orang-orang percaya bahwa arah hadap pelaku gantung diri juga menjadi isyarat kematian berikutnya: pada arah yang dihadap oleh jenazah gantung diri itulah kelak pulung gantung akan turun. Misalnya, jika seorang korban gantung diri ditemukan dalam keadaan menghadap ke arah utara, maka pada arah itu pulalah pulung gantung dipercaya akan jatuh kelak di kemudian hari.

Ini menjadi horor dan teror karena tidak cukup jelas utara di situ merujuk apa. Bisa jadi itu merujuk rumah yang berada di sebelah utara rumah si korban. Masalahnya, rumah di sebelah utara itu banyak jumlahnya. Kadang, arah itu merujuk kampung atau pedukuhan yang berada di sebelah utara rumah si korban. Masalahnya, kampung dan pedukuhan yang berada di sebelah utara rumah si korban juga banyak jumlahnya.

Ini memungkinkan aroma kematian itu menyebar dan menyelimuti banyak orang di banyak kampung atau pedukuhan. Mereka berharap-harap cemas: mungkinkan rumah atau pedukuhan saya yang akan kejatuhan pulung gantung berikutnya?

Di beberapa tempat, kepercayaan terhadap benda langit yang bersinar malam hari sebagai isyarat sesuatu yang buruk memang bukannya tak ada. Tapi tak ada yang sespesifik di Gunung Kidul.

Sewaktu kecil (kampung saya di perbatasan Cirebon-Kuningan, Ciremai terlihat cukup jelas), saya mendengar cerita tentang “banaspati” yang pemeriannya kurang lebih hampir mirip seperti pulung gantung. Dikabarkan bahwa banaspati ini mencari korban. Jika banaspati ini sudah memilih korban, begitu yang saya dengar waktu kecil, korban yang dipilih tak akan pernah bisa sembunyi. Belakangan, saya sering mendengar pula kepercayaan ihwal banaspati ini ternyata banyak juga berkembang di wilayah-wilayah lain di tlatah Jawa.

Di Barat juga ada kepercayaan mengenai benda langit seperti lentera yang berkelip-kelip memancarkan semburat warna biru. Benda itu biasa disebut “jack o’lantern” atau “will o’ the wisp”. Benda langit ini dipercaya sebagai hantu gentayangan yang membawa api neraka yang akan menyesatkan siapa saja yang mengikutinya sehingga ia akan tersesat tanpa bisa kembali atau bahkan terperosok ke dalam rawa-rawa penuh buaya atau paya-paya yang digenangi lumpur hidup yang bisa menyedot siapa saja yang terjebak di dalamnya.

Mitos “jack o’lantern” atau “will o’ the wisp” itu perlahan lenyap seiring kemunculan teknologi listrik yang membuat malam-malam di Eropa menjadi terang benderang. Belum ada riset yang bisa menjelaskan hubungan antara masih bertahannya mitos pulung gantung ini dengan peta penyebaran listrik di Gunung Kidul. Di pelosok desa-desa Gunung Kidul memang masih belum teraliri listrik. Jika pun sudah, kondisi geografis yang berbukit-bukit dan masih dipenuhi ladang dan alang-alang seringkali membuat desa-desa tersebut relatif gelap jika malam hari.

Cerita ihwal banaspati yang saya dengar di masa kecil, kurang lebih, juga beredar dengan kuat sewaktu kampung saya masih belum teraliri listrik. Sekarang, anak-anak kecil di kampung saya sudah jarang yang mengenal cerita mengenai banaspati.

Kendati sama-sama menguarkan aroma maut yang menggidikkan, kepercayaan mengenai Mitos “jack o’lantern” atau “will o’ the wisp” atau banaspati di kampung saya maupun di wilayah lain yang pernah saya dengar, (setahu saya) tak pernah menggerakkan seseorang untuk melakukan bunuh diri, apalagi dengan cara gantung diri. Hanya di Gunung Kidul sajalah kepercayaan tentang pijar bola api di malam hari dipercaya akan berakhir dengan tragedi gantung diri.

Beberapa penelitian sudah mencoba mencari tahu fenomena pulung gantung ini. Beberapa di antaranya yang pernah saya baca adalah penelitian Noor Sulistyo Budi di desa Pacarejo (Jurnal Patra Widya No3/2004), buku “Talipati” karya Iman Budhi Santoso yang diterbitkan Jalasutra dan buku “Pulung Gantung: Menyingkap Tragedi Bunuh dDiri di Gunungkidul” karya Darmaningtyas yang diterbitkan oleh penerbit Salwa.

Yang masih saya ingat, Darmaningtyas dan Noor Sulisyto Budi tidak cukup memuaskan dalam memberi penjelasan bagaimana jatuhnya pulung gantung itu membentuk alam kesadaran atau bawah sadar seseorang sehingga ia yakin bahwa dirinya memang dipilih oleh pulung gantung untuk melakukan bunuh diri.

Darmaningtyas dan Noor Sulistyo Budi menawarkan jalan untuk memahami tingginya angka gantung diri di Gunung Kidul melalui pendekatan sosiologis, seperti tekanan ekonomi, kemiskinan, jeratan hutang atau penyakit menahun yang tak kunjung sembuh. Sudah bisa ditebak, penjelasan macam ini memang berbau Durkheimian. Durkheim pernah menulis buku berjudul “Suicide” yang mencoba memberi perspektif sosiologis untuk memahami fenomena bunuh diri di kalangan Katolik dan Protestan. Buku “Suicice” ditulis Durkheim setelah ia begitu terpukul oleh bunuh diri yang dilakukan karibnya bernama Victor Hommay.

Survey yang mendalam mengenai pelaku gantung diri yang berhasil diselamatkan mungkin bisa mengisi kekosongan ini. Wawancara yang intensif dengan pelaku gantung diri di pelosok Gunung Kidul yang berhasil diselamatkan mungkin bisa menguraikan bagaimana terbentuknya keyakinan orang tersebut untuk melakukan bunuh diri dalam kaitannya dengan pulung gantung.

Masalahnya, amat jarang ada pelaku gantung diri di Gunung Kidul yang berhasil diselamatkan nyawanya. Noor Sulistyo Budi yang melakukan penelitian mengenai pulung gantung di wilayah kecamatan Semanu mencatat bahwa dari sekian banyak narasumber yang ia temui hanya ada seorang narasumber yang pernah mendengar ada pelaku gantung diri yang bisa diselamatkan, itu pun ia hanya mendengar dua kali selama hidupnya.

Hingga hari ini, kepercayaan terhadap pulung gantung masih bertahan dengan kuat di Gunung Kidul, terutama di pelosok-pelosok desa yang terpencil. Di tempat-tempat itu, orang-orang masih cemas sewaktu malam-malam mendongakkan kepala ke langit dan berharap tak ada benda bersinar merah kebiru-biruan yang melesat cepat menuju pekarangan rumahnya.

Jika ternyata pulang gantung benar-benar muncul, tak lama lagi seisi kampung akan merasa dibayangi-bayangi kematian dengan lekat, inilah titimangsa di mana kematian rasanya begitu akrab dan dekat, mungkin seperti bunyi kelepak kelelawar yang terbang hilir mudik di atas genting sewaktu malam sudah benar-benar lengkap.

10 komentar:

dewi mengatakan...

apakah benar mereka melihat pulung gantung sebelum bunuh diripun masih dipertanyakan, bukan? oiya, ini si pulung gantung diliat oleh yang mau mati saja, atau semua orang bisa melihatnya?

kw mengatakan...

ada gak ritualnya memanggil pulung gantung? aku ingin berbincang dengan dia. pengen tahu kenapa nyuruh orang gantung diri. :)

haris mengatakan...

barangkali pulung gantung adlh misteri paling misterius sebab hantu2 yg dimitoskan itu biasanya langsung maen bunuh, bukan menyuruh orang bunuh diri. dan, bgmana seseorang bs dipengaruhi sedemikian rupa?

sayurs mengatakan...

mrinding aku cah...

Anusapati mengatakan...

Mungkin tidak ya Zen, Pulung Gantung yang dilihat warga Gunung Kidul adalah meteor?

Aku membayangkan, kenapa Manusia Prba (10.000 SM) dulu menjadi Gunung Kidul sebagai real estate mereka, mungkin mereka suka rebahan di tanah...sembari melihat bintang jatuh.

hehehe

ipungmbuh sh mengatakan...

hmm..semacam "lintang kemukus" ini hari yang muncul di akhir september 1965- an kali ya?

ipungmbuh sh mengatakan...

* koreksi = "...dini hari..."

turabul-aqdam mengatakan...

dasar, pulung gantung najiss! beraninya ama orang miskin! berapa sih tarifnya?

gw mo nyewa, untuk menugasi dia beraksi di senayan. banyak orang di situ yang lebih perlu digantung ketimbang orang-orang miskin di gunung kidul.

BTW, bener ga sih secara statistik kematian lebih dekat pada orang miskin ketimbang orang kaya?

Anonim mengatakan...

pulung gantung?
opo memang itu penyebabe yo?
opo mergo tekanan beban hidup sing berat kang?

http://sangnanang.dagdigdug.com

robertus arian mengatakan...

Mas, dosen saya di RSUP dr Sardjito Jogja, dr. Yoga, psikiater pernah membuat kajian mengenai fenomena bunuh diri di Gunung Kidul. Boleh sebagai bahan tambahan menulis...