»

Mulih

Uncategorized — pejalanjauh @ 10:55 pm

Di kota yang berjarak sekira 400 km dari Jakarta, saya menerima pesan pendek yang ringkas: “Gak perlu terburu-buru pulang. Santai sajalah!”

Ini salah satu pesan terbaik yang saya terima di tahun 2008. Kaki ini rasanya makin ringan melangkah. Menyenangkan rasanya. Sebab salah satu hal yang diinginkan orang yang sedang kelayaban adalah tak ada yang memintanya pulang secepat-cepatnya.

Saya jadi ingat kutipan mendiang Gie yang paling terkenal. Saya memelesetkannya sedikit:

“Nasib terbaik adalah menggelar perjalanan tanpa pernah disuruh pulang, yang kedua hanya sesekali ditanya kapan pulang dan yang tersial adalah terus menerus ditanyai kapan pulang.”

13 Comments »

  1. Damai banget yach Mas…!!! Berkelana tanpa disuruh pulang. Pinginnnnnnnnnnn…..

    Comment by p3m4 d04nK — 2008/02/09 @ 5:39 am
  2. Zen,kenapa tulisanmu yang ini, walau pendek,tapi bikin saya bergidik juga…
    Mungkin nasib kita sama.
    Soal pulang ini,saya selalu ingat bait salah satu puisi Isbedy Stiawan ZS:
    “Aku harus pergi
    karena dengan begitu aku ingin pulang”…

    Zen, saya ikut kamu ajah…Agak malas untuk pulang…Paling bahagia jika jarang ditanya soal pulang-memulang…

    Sukses terus…

    salam;

    dhe alias denny ardiansyah

    Comment by D.A.Sujana — 2008/02/09 @ 8:02 am
  3. sepertinya kamu harus pulang deh..
    Ada tagihan listrik yang belum dibayar.

    Comment by iman brotoseno — 2008/02/09 @ 10:43 am
  4. Saya juga lagi malas pulang nih…
    Salam kenal mas :)

    Comment by ahmadsimanjuntak — 2008/02/09 @ 10:48 pm
  5. bukankah yang lebih menyedihkan adalah ketika tak ada seorangpun yang menantikan kepulangan kita?

    Comment by Okky P. Madasari — 2008/02/10 @ 6:15 am
  6. Tentang pulang, selalu menarik di bahas.

    Kapan-kapan kita bahas kepulangan ini di angkringan tugu mas?

    Comment by sandal — 2008/02/11 @ 5:22 am
  7. beruntungnya aku, karena tak punya rumah, jadi tak ada yang mengharap kepulanganku. :)

    Comment by kw — 2008/02/11 @ 1:44 pm
  8. Saya sedang bertugas di salah satu project tempat saya bekerja di pedalaman kalimantan. Dan hampir semua orang disini selalu bertanya; sampai kapan disini? kapan balik ke jakarta?

    salam kenal ya..

    Comment by Evie — 2008/02/12 @ 5:49 am
  9. waaah suka jalan-jalan ya Mas? Atau melarikan diri dari sesuatu makanya males pulang? :P

    Comment by Chic — 2008/02/12 @ 6:19 am
  10. @pema doang: bisa damai bisa gak, pastinya, sesekali perlu dicoba, sebelum jadi tua.

    @deny: knp bergidik? ada hal yg kasuistik? hehehe…

    @iman brotoseno: persis, mas iman. saya kemarin mampir di jogja utk urus listrik dan kamar yg bcor.

    @ahmad simanjuntak: malas pulang? good! lam kenal juga, ya…

    @okky: tergantung kepergianmu utk siapa. jk utk org lain, pasti berharap ada yg nunggu. tp jika berjalan utk diri sendiri, biasanya tak begitu peduli ada yg nunggu atau tak. piye pantai di bali? hihihihi….

    @sandal: sudah diganti di djendelo, kan? sayang lom sempat omongin kepulangan. kapan2 ya….

    @kw: yg bener nih mas? ati2 oh ntar kualat! hehehe

    @evie: hahaha… itu kutukan jk kita sedang betah di rantau, tp obat mujarab jika kt sedang rindu. udah kemana aja nih di borneo? dah cari anggrek biru di pedalaman kapuas?lam kenal jg ya, mbak…

    @chic: melarikan diri? hehehehe… masalah itu seringnya datang justru saat kita di jalan, lebih2 kl kita bepergian utk orang lain, bkn utk diri kita sendiri. lam kenal ya, chic….

    Comment by zen — 2008/02/12 @ 12:26 pm
  11. Uh,justru sebaliknya..sy jarang bepergian, dgn 2 alasan; (1) rumah adl tempat paling nyaman bwt sy (2)sy punya masalah dgn motion sickness — alias gampang mabok!

    Comment by astrid savitri — 2008/02/13 @ 5:41 am
  12. Selalu memimpikan saat-saat kelayaban dan tak ada yang memintanya pulang secepat-cepatnya. Dan berharap mendapat nasib terbaik “menggelar perjalanan tanpa di suruhpulang”

    Salam kenal pak.

    Comment by hanum — 2008/02/26 @ 2:44 pm
  13. asik!
    pengelana.
    gue mau ah kayak Christopher McCandless…
    :D

    Comment by orang biasa — 2010/05/31 @ 3:34 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity