»

Luka-luka Kawabata (3)

Uncategorized — pejalanjauh @ 9:25 am

Kisah-kisah yang sering menggambarkan batin yang terluka, yang dihayati dengan sunyi, hening, liris dan terkadang suram itu seperti menjadi pantulan dari luka yang mengeram dalam struktur kesadaran generasi Jepang yang sempat menyaksikan akibat merusak dari perang Dunia II yang melibatkan Jepang dalam baku bunuh yang membikin (rakyat) Jepang tidak hanya kikuk berhadapan dengan Barat, melainkan juga canggung menghadapi bangsa-bangsa Asia lain yang pernah merasakan getirnya laku bengis tentara Jepang.

Lewat pidato yang dibacakan di depan Komite Nobel Sastra pada 1994, Kenzaburo Oe seakan sedang menapaktilasi struktur kesadaran generasi pengarang Jepang pasca perang, dan tentu bisa dibaca pula sebagai pembacaannya terhadap Kawabata sebagai eksponen terpenting generasi post-war litteratur.

Di pidato berjudul Japan, the Ambigous and Myself (bandingkan dengan judul pidato Nobel Kawabata: Japan, the Beuatiful and Myself), Oe bertutur tentang bagaimana perihnya derita dan beban warisan masa lalu yang mesti mereka tanggung dan bayar. Mereka adalah generasi pengarang yang sangat terluka sekalipun penuh harapan untuk bisa lahir kembali.

Mereka mencoba dengan sakit luarbiasa untuk memoles kekejaman biadab yang dilakukan pasukan Jepang di negara-negara Asia dan sekaligus juga dibebani tanggungjawab untuk menjembatani jurang yang sangat dalam antara Jepang dengan negara yang pernah dilukai Jepang.

Kisah-kisah Kawabata, terutama yang lahir pasca perang, kaya dengan gambaran ihwal luka, kesedihan dan kepedihan manusia yang tak tertanggungkan, luka mendalam yang hanya diekspresikan dengan diam-diam, liris, tak banyak kata. Dari sana gamblang tergambar bagaimana generasi pengarang Jepang pasca perang menghayati rasa malu, luka dan beban sekaligus. Dan dari sanalah mereka, tentu saja Kawabata juga, menghadirkan banyak karakter manusia yang mudah terluka perasaannya.

Kawabata, dan para pengarang angkatan post-war litterature, seperti sedang membagi luka kolektif bangsa Jepang. Tetapi mereka tak hanya mengerang-ngerang. Dengan fiksi-fiksinya, mereka mencoba memulai proyek penyembuhan jiwa-jiwa yang koyak. Sastra bagi Oe, seperti juga Virginia Wolf, adalah salah satu cara yang paling mungkin sehingga derita bisa tertanggungkan.

Kenzabure Oe barangkali adalah satu dari mereka yang betul-betul bisa menanggung luka dan beban tadi, dan kemudian bangkit. Bunuh diri diam-diamnya Kawabata dan aksi bunuh diri super spektakuler dari Mishima pada 1970, menunjukkan bahwa tidak semua dari mereka betul-betul bisa bangkit dari luka dan beban (dalam bahasa Oe disebut sebagai “ambiguitas”) yang yang seringkali tak tertanggungkan.

Dalam hal Kawabata, puncak dari rangkaian kisah tragis yang dihayati dengan cara yang subtil dan hening itu (tragika seperti dalam kehidupan masa kecilnya yang abnormal dan sebatang kara atau dalam kesadaran kolektif bangsa Jepang maupun dalam fiksi-fiksinya) ditunjukkan dalam caranya mengakhiri hidup: bunuh diri tanpa meninggalkan jejak dan isyarat. Pada suatu malam yang hening di bulan April. Di kamar pribadinya yang terkunci rapat-rapat.

Luka-luka Kawabata (2)

Uncategorized — pejalanjauh @ 9:21 am

Jika diberi pilihan untuk memilih tempat tinggalnya setelah mati, Kawabata kemungkinan akan memilih tempat-tempat yang dingin, sunyi, hening sekaligus mencekam. Persis seperti cara ia menempuh kematian. Serupa dengan tema dan bangunan suasana yang sering ia munculkan dalam sejumlah karyanya.

Saya teringat Buah Delima. Cerpen yang ditulis Kawabata pada 1964 itu berkisah ihwal sepasang muda-mudi yang dipaksa berlerai cintanya oleh kecamuk perang yang tak bisa ditenggang. Di sebuah siang yang terik tapi senyap, disaksikan ibunda si gadis, keduanya bersemuka terakhir kali. Tak banyak yang terucap di siang itu. Cuma ada ucap pamit sekadarnya. Beberapa kerjap selepas kekasihnya pergi, gadis itu menemukan buah delima yang disuguhkannya ternyata tak dihabiskan kekasihnya. Hanya secuil bagian yang termakan.

Kisah itu sungguh menyenangkan dibaca karena Kawabata berhasil menyuguhkan roman cinta tanpa sekalipun memunculkan kata “cinta”. Tapi pembaca tahu, pasangan muda itu merasakannya kendati tak terucap. Terasa tapi tak terkata. Dan cinta yang merasuk itu dimanifestasikan lewat sebuah gerak yang begitu liris: si gadis, disertai pecahnya bilur-bilur tangis yang menyayat, dengan senang hati memakan sisa delima itu.

Kawabata, saya kira, memang amat senang mengeskplorasi konflik psikologi yang dihamparkan dengan halus, jauh dari meledak-ledak. Dalam banyak kasus, konflik dihadirkan sebagai bayang yang merasuk-mendalam, sesuatu yang subtil.

Di novel Beauty and Sadness, misalnya, konflik psikologis yang dipaparnya terasa demikian halus karena di puncak sebuah konflik atau perdebatan, Kawabata selalu mengimbuhinya dengan deskripsi latar yang detail dan indah dengan cara melukiskan bentang alam Jepang yang eksotik oleh salju dan tebaran kuil-kuil tua yang masih punya aura.

Obsesi Kawabata pada keheningan di tengah sebuah konflik yang nyaris memuncak terlihat pula pada adegan ketika Oki, tokoh utama yan berfrofesi sebagai novelis, bersua kembali dengan mantan selingkuhannya, Otoko. Dalam perjumpaan yang sudah ditunggu-tunggu lama, keduanya malah menghabiskan waktu hanya dengan mendiskusikan lukisan. Hanya sebiji kalimat Otoko yang memertautkan pertemuan itu dengan masa silam: ‘Sudah lama sekali….”. Cuma itu. Lain tidak.

Tapi jejalin diksi dan deskripsi latar yang disemai Kawabata berhasil membawa imaji pembaca untuk sampai pada kesimpulan: keduanya masih saling mencintai dan merindukan, sekalipun (lagi-lagi) mereka tak membicarakannya. Tentu saja, dalam usia mereka yang makin senja, paling tidak dalam kasus Oki dan Otoko, cinta dan kerinduan adalah perkara yang sulit, rumit, sumir, tetapi justru mewujud dalam bentuk yang intens dan mendalam.

Tuturan ihwal rasa sepi, hening serta gelombang emosi yang pasang surut yang dihayati secara personal dam diimbuhi oleh kepekaannya menangkap nuansa dan aura Jepang lama lewat pemeriannya yang khas terhadap ritual-ritual Jepang (misal: pemerian detail acara minum teh dalam The Thousand Cranes) atau dengan mendeskripsikan kuil-kuil tua Jepang (seperti dipaparkan dengann baik dalam Beauty and Sadness), terasa kian mengena karena ia juga bertutur dengan cara yang amat liris. Komplit sudah.

Itulah sebabnya dalam khasanah kesusasteraan Jepang ia dikenal sebagai “…narrative mastership, which with great sensibility expresses the essence of the Japanese mind.”

Luka-luka Kawabata (1)

Uncategorized — pejalanjauh @ 9:01 am

Publik sastra Jepang tampaknya tak akan melupakan tanggal 16 April. Pada hari itulah, persisnya pada 1972, salah seorang putra terbaik yang pernah dilahirkan kesusatraan Jepang, ditemukan tewas tanpa meninggalkan inskripsi, tanpa saksi, dan tanpa testimoni. Yasunari Kawabata bunuh diri diam-diam.

Kawabata pergi berselang empat tahun setelah ia menangguk penghargaan Nobel Sastra, sebuah penghargaan yang tidak hanya melambungkan namanya ke langit-langit dunia sastra, tetapi juga memantik perhatian dunia terhadap khasanah kesusatraan Jepang modern. Terutama karena Kawabata-lah dunia mengenal sastra Jepang tak hanya dengan sosok Matsuo Basho dan haiku ciptaanya.

Bersama dengan eks-muridnya, Mishima, dan juga Tunichiro Tanizaki, Kobo Abe, Fumiko Enchi dan Kenzabure Oe (peraih Nobel Sastra 1994), Kawabata ada di deretan paling atas dari sebuah gelombang pembaharuan sastra Jepang pasca Perang Dunia II, sebuah gerakan yang kemudian dikenal dengan nama Post-war Litterature

Dalam arus pembaharuan itu, Kawabata bahkan disebut sebagai pemimpin dari gaya penulisan yang liris dan impresionis. Dalam puncak keberhasilan gaya itu, Kawabata dikenal sebagai sastrawan Jepang yang paling berhasil menciptakan banyak cerita dengan kadar sensibilitas estetik yang begitu lembut; sesuatu yang kemudian memengaruhi generasi sastrawan Jepang selanjutnya, dan bahkan memikat nama besar lain dalam jagat sastra, Gabriel Garcia Marquez, yang belakangan dipengaruhi oleh melankoli dan sensibilitas Kawabata (baca novel Marquez Memories of My Melancholy Whores).

Komite Nobel sendiri menyebut karya-karya Kawabata sebagai sebuah sumbangan berharga bagi perjumpaan spiritual antara Barat dan Timur. Tapi bagi saya, Kawabata bukan cuma berhasil memertemukan dunia spiritual Barat dan Timur. Yang sebetulnya jauh lebih menarik ketimbang penilaian Komite Nobel yang bernada seremonial itu adalah kenyataan di mana Kawabata diakui sebagai satu-satunya pengarang Jepang yang hampir terobsesi pada pencarian tapal batas antara keindahan dan brutalitas (Colliers Years Book; 1997).

Setidaknya ada dua karya Kawabata yang bisa diacu untuk hal penting itu. Kisah perselingkuhan dalam novel Beauty and Sadness bisa diacu sebagai salah satu contoh. Adegan yang menyayat itu terjadi ketika istri dari Oki, novelis yang berselingkuh, sedang mengetik naskah novel suaminya. Novel itu justru bercerita tentang perselingkuhan suaminya. Istri Oki yang sedang hamil itu juga tahu. Tapi ia nekat mengetiknya sendiri.

Yang dirasakannya kemudian adalah setiap hentakan di tuts mesin ketik rasanya seperti hunjaman-hunjaman pedang yang menohok batinnya. Begitu halaman terakhir novel itu selesai diketik, tuntas pula penderitaan sang istri: ia keguguran saat itu juga. Dengan darah yang menetes-netes dari selangkangannya.

Dalam cerita pendek Burung Kenari, Kawabata lebih jago lagi dalam mendemonstrasikan bagaimana hasil dari pencariannya terhadap batas antara brutalitas dan keindahan itu.

Di cerpen sangat pendek itu, Kawabata berkisah tentang seorang lelaki yang dengan penuh kasih memelihara seekor burung kenari yang diberikan kekasih gelapnya. Cerpen berbentuk sepucuk surat itu berisi pengakuan si lelaki tentang kebimbangan antara rasa rindu pada kekasih gelapnya dengan rasa bersalah terhadap istrinya yang begitu baik, yang bahkan ikhlas merawat burung kenari yang menjadi pengikat perselingkuhannya. Lewat surat terakhir yang ditulis persis di hari kematian istrinya, si lelaki memutuskan untuk menghentikan kisah cintanya yang terlarang.

Simbol sekaligus klimaks dari pertobatan lelaki itu dari kisah cinta yang terlarang, konflik batin, dan rasa rindu yang menggunung, dimanifestasikan Kawabata dengan ending yang nyaris brutal: diam-diam, lelaki itu berniat menyembelih hidup-hidup burung kenari yang jadi prasasti perselingkuhannya. Dan si lelaki, berniat mengubur sepasang burung itu, di liang yang sama di mana istrinya dikebumikan.

Dalam karya itulah saya kira Kawabata telah menemukan batas antara keindahan dan brutalitas. Dan ketika ia menemukan tapal batas yang dicarinya, yang ia lihat justru kaburnya batas antara brutalitas dan keindahan, persis seperti dua fragmen yang terpapar dalam dua kisah barusan.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity