»

Aubade Perempuan Eksil

Uncategorized — pejalanjauh @ 6:04 am

Sutanti, istri DN Aidit, baru saja melahirkan anak pertamanya. Di hari membahagiakan itu Aidit di mana entah. Sobron jadi orang pertama keluarga Aidit di Jakarta yang datang menjenguk.

Tanti lantas menyerahkan pada Sobron ari-ari jabang bayinya untuk diurus. Tapi Sobron, kala itu masih pemuda ingusan yang baru hijrah dari Belitung dan awam benar soal primbon tata-polah orang Jawa, asal saja membuangnya ke sungai!

“Kata orang (Jawa), kalau ari-ari dibuang ke sungai, si pemiliknya akan berkelana terus,” tulis Ibaruri Putri Alam, anak sulung DN Aidit, si pemilik ari-ari yang dibuang ke sungai itu.

Dan itu pula yang senyatanya berlaku. Pada awal Oktober 1958, Ibaruri yang berusia 16 tahun dikirim Aidit ke Moskow bersama adiknya, Ilya. Ada semacam naluri politik dalam diri DN Aidit untuk menyekolahkan anak-anak perempuannya ke luar negeri sehingga jika ada deru deram politik yang membahayakan, mereka bisa menyelamatkan diri.

Sejak itu Iba dan Ilya tak pernah bisa kembali ke Indonesia, ia menjadi seorang pengungsi abadi. Keduanya sebenarnya sukses meraih gelar sarjana di Eropa Timur. Tapi gelar itu menjadi tak bermakna apa-apa ketika mereka kemudian “pindah” dan terpaksa berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri yang lain: Rusia, Tiongkok, Burma, Macao dan terakhir menetap di Prancis.

Baru pada April 2005 Iba bisa kembali menginjak bumi Indonesia. Tapi sebagai warga negara Prancis. Status WNI-nya tak diakui, bahkan ketika Gus Dur sebagai Presiden pernah menjaminnya.

Iba tak akan melupakan Gus Dur. Iba juga akan mengingat terus sebuah peristiwa bertarikh 2001, di sebuah musim panas yang terik di Paris. Gus Dur kala itu masih Presiden Indonesia, singgah di Paris dan menjumpai orang-orang Indonesia yang menjadi eksil. Iba diundang khusus untuk datang. Dia bahkan disediakan tempat duduk di deret paling depan, berdekatan dengan Gus Dur.

Begitu tiba, Gus Dur langsung menghampiri Iba, dan berucap: “Iba, saya belum berhasil membatalkan TAP MPRS no. XXV 1966. Saya sudah perjuangkan, tapi belum berhasil.”

Di otobiografinya ini, Ibaruri (nama yang diambil Aidit dari nama pendekar Partai Komunis Spanyol, Dolores Ibaruri) menuliskan ingatannya akan fragmen penting itu seraya mengimbuhinya dengan sebuntal kesan yang personal dan karenanya terasa cukup mengharukan:

“Aku, Ibaruri, yang sudah puluhan tahun tak pernah menginjakkan kaki di Kedutaan Besar Republik Indonesia! Kali ini dicari Presiden Indonesia in person. …Aku berterimaksih dan menjawab tidak apa-apa. …Dengan sederhana serta tulus beliau pernah meminta maaf. Dan apa yang lahir dari situ? Secara sederhana pula orang-orang PKI itu memaafkannya. Kok repot-repot.” (hal. 270)

Iba mungkin masih belum paham betapa soal maaf-memaafkan, di sini, kerap merepotkan, bagi seorang Gus Dur sekali pun. Sebab maaf, betapapun, menyiratkan masih terpacak tegaknya kesadaran ihwal arang yang mencoreng-coreng, laku yang berlancung-lancung, atau tingkah yang mengerkah-ngerkah.

Memaafkan karenanya selalu jadi medan penuh ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan”. Otobiografi Ibaruri ini adalah salah satu contoh yang cukup mengesankan bagaimana ketegangan macam itu mencuat kuat.

Kenangan berkelebatan di nyaris semua helai buku ini, hal lumrah karena sebuah otobiografi dilahirkan memang untuk, salah satunya, mengenang-ngenang.

Tapi dalam hal otobiografi orang macam Ibaruri, (yang duapertiga hidupnya dihabiskan dalam pengasingan karena menjadi korban deru deram politik yang sepenuhnya tak bisa ia mengerti) mengenang selalu menjadi problematis. Dan tidak mudah akhirnya.

Orang-orang seperti Iba inilah yang tahu benar betapa mengenang selalu membuat hidup tak bisa sepenuhnya dipahami: Mengapa harus begini kejadiannya? Kenapa harus begitu yang berlaku senyatanya? Lantas saya mesti melakukan apa?

Di titimangsa seperti itulah ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan” saling tindih-menindih, tabrak-menabrak. Iba menggugat-gugat di banyak helai halaman bukunya, soal pembantian keji orang-orang PKI, dll. Tapi Iba juga mencoba mengerti. Dan seringkali tampak ingin melupakan.

Di bawah menggunungnya daki-daki kebohongan, di sudut jiwa yang paling dalam, aku mengharap masih ada tersimpan secuil nurani yang masih polos, masih murni. …Yah, nurani… yang bepuluh-puluh tahun telah diberangus, disumbat, dipaksa bungkam seribu bahasa. Tak ingin aku berdebat tarik urat di sini. Aku hanya ingin menumplekkan jerit hatiku, marah dan tangisku,” tulis Iba (h. 384).

Dalam paragraf itu, kenangan yang membuat rasa masygul pun nongol (“kebohongan dan nurani yang dibungkam”), yang diimbuhi kesadaran kekinian untuk membikinnya sudah (“tak ingin aku berdebat”), sekaligus menyempil pula secual harapan yang kadang terasa naif (“aku mengharap masih ada tersimpan secuil nurani yang masih polos, masih murni”).

Di paragraf itulah “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan” tampak secara eksplisit, dan lantas terhampar dengan sedemikian rupa menjadi satu kontinum kesadaran yang sinambung dan akhirnya membentuk sejarah hidup seseorang, dalam hal ini Iba, lengkap dengan kontur mentalnya yang khas.

Tetapi, terlihat pula betapa proses mengenangkan yang kerap memerihkan itu ingin dihadirkan Iba bukan penaka sebuah petaka yang hendak digusah pergi. “Biarlah ia tetap di sana dan mengendap,” begitu barangkali Iba berpikir.

Tak mengherankan jika dibalik paragraf-paragraf itu, betapa pun isinya gugatan sekali pun, saya merasa Iba seperti sedang berkompromi dengan yang silam. Dalam hal Iba, mengenang berarti juga berkompromi. Saya temukan sebentuk kepasrahan, barangkali penerimaan, atau sumeleh kata orang Jawa, bahwa hidup memang tak sepenuhnya mulus dan tak akan pernah selalu baik-baik saja. Mesti ada yang retak, split, dan bergurat-gurat luka. (Adakah kepasrahan itu disebabkan karena Iba sudah jadi seorang Budhis yang tentu paham soal determinasi takdir?)

Iba, entah para pengungsi abadi lainnya, ingin semua proses itu bisa terus berlanjut tak terputus. Dan mulus. Jangan ada lagi darah. Juga luka. Apalagi dendam. Itulah sebabnya Iba sempat menaruh harap: “Aku mengharap masih ada secuil nurani yang masih polos dan masih murni”.

Otobiografi di sini telah menjadi salah satu obyektifikasi ihwal sengitnya pertempuran antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan” dalam ruang batinnya. Juga untuk melepaskan keletihan serta segenap-ganjil unek-uneknya. Sekaligus mengabarkan pada anak bangsa leluhurnya (kita, orang Indonesia) bahwa ada banyak yang terluka dalam proses panjang tumbuhnya Indonesia menjadi seperti sekarang.

Menuliskan semua-mua itu sendiri menjadi seperti proses penyembuhan bagi Iba. Seperti kata Virgina Wolf, “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma sebuah cerita.”

Kita tidak tahu apakah derita itu sudah tertanggungkan atau belum!

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2011 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity