-- buat dipa
Pada hari pertama Ramadhan tahun kemarin, saat sedang kelayaban di pertambangan intan di Martapura, seorang pedagang soto Banjar yang saya temui menyebut kata “wani”.
Saya bertanya padanya dan untuk pertama kalinya saya tahu bahwa dalam bahasa Banjar, “wani” artinya “berani”. Dalam hal kata “wani”, bahasa Banjar ternyata bersepakat dengan bahasa Jawa dan Sunda.
Wiji Thukul, penyair-demonstran yang hilang dan karenanya kadang saya menganggapnya telah mengalami “moksa”, dengan begitu ciamik menggunakan kata “wani” untuk menamai anak bungsu perempuannya. Nama lengkap anak bungsu Wiji Thukul itu ialah “Fitri Nganti Wani”.
Saya tidak tahu apakah saya bisa membuat nama sebagus itu. Entah dari mana Wiji Thukul mendapat ide untuk nama anaknya. Tapi, jika boleh berandai-andai, nama sebagus itu pastilah datang dari satu pengalaman hidup yang sudah mengurat-akar. Dalam kata-kata yang lebih padat, rasanya bolehlah saya bilang: nama itu adalah perasan –katakanlah: sari pati—dari sejarah hidup pembuatnya, ya… sejarah hidup Wiji Thukul.
“Bapak hanya punya keberanian,” kata Fitri Nganti Wani.
Kata-kata Fitri itu, yang rasanya mirip dengan diksi-diksi dalam puisi ayahnya, sudah cukup bagi saya untuk bisa memahami bagaimana Wiji Thukul bisa mendapat ide untuk menyusupkan kata “wani” pada nama anaknya. Rasanya, amat bisa dipahami jika seorang ayah yang hanya punya keberanian menyusupkan kata “wani” pada nama anaknya.
Terus terang saja saya belum pernah bertemu dengan Fitri Nganti Wani, perempuan yang di tubuhnya mengalir darah seorang lelaki pemberani. Tapi saya punya teman kecil yang juga punya kata “wani” pada namanya. Teman kecil yang masih berusia 4 tahun itu bernama “Dipa Wani Peninsula”.
Satu hal yang mungkin sekarang belum dimengerti Dipa, begitu saya biasa memanggilnya, kata “wani” yang disandang namanya sedikit banyak mencerminkan bagaimana ayahnya menjalani hidup dengan berani, terutama pada bulan-bulan di mana Dipa masih mengeram dalam rahim ibunya.
Saya sama sekali tidak berniat membanding-bandingkan antara Wiji Thukul dengan ayahnya Dipa Wani Peninsula. Tak ada niat sama sekali untuk menghelat sebuah perbandingan. Keberanian tetaplah keberanian. Ia hanya bisa diukur berdasar konteks yang melahirkannya, dinilai berdasar situasi yang memaksa seseorang untuk mengambil pilihan untuk menjadi seorang pemberani atau pengecut.
Pada bulan-bulan di mana Dipa masih dalam kandungan, saya beberapa kali menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana ayahnya mesti berhadapan orang-orang yang membencinya setengah mati, mesti menjumpai muka lawan muka orang-orang yang mendoakannya dipanggang ganasnya api neraka, mesti bersemuka dengan orang-orang yang dengan nada amat yakin menudingnya kafir.
Tensi teror makin mengganas sewaktu kandungan Dipa berumur delapan bulan dan terus meninggi hampir bersamaan dengan lahirnya Dipa: proses kelahiran yang berlangsung dengan erangan ibunya sepanjang hampir 24 jam. Ini seperti klimaks sebuah cerita.
Tapi belum selesai sampai di situ. Ayah Dipa masih harus menghadapi momen puncak teror yang menguji mental sewaktu ia menghadapi ratusan orang yang memenuhi sebuah aula hanya untuk menyaksikan seperti apa tampang penulis yang bukan hanya dianggap sudah mencemarkan nama baik sebuah kampus berlabel agama tetapi juga didakwa sudah menistakan agama. Dengan meniru apa yang sudah dilakukan Jassin sewaktu didakwa karena memuat cerpen “Langit Makin Mendung” dengan membacakan pledoi, ayahnya Dipa juga membacakan sebuah pledoi yang sudah lebih dulu disiapkannya yang dijuduli: "Yang Memuji Yang Mengutuk: Sebuah Pleidoi".
Kejadian itu berlangsung di depan mata saya dengan dibayang-bayangi kekerasan yang serius. Kasak-kusuk di belakang -yang di antaranya menyiapkan benda tajam-- begitu santer. Itu berlangsung hampir bersamaan dengan aqiqah-nya Dipa.
Bagi saya, yang tidak pernah menghadapi momen-momen seperti itu, sikap ayahnya Dipa yang berkali-kali berani menerima undangan diskusi dari lembaga yang sudah jelas hendak “membantainya” di depan massa yang berlimpah sudah lebih dari cukup untuk menjadikan sosoknya tampil dalam ingatan saya sebagai seorang pemberani. Setidaknya pada saat itu.
Dia tidak harus menerima undangan itu dan ia bisa saja menolaknya. Dia bisa saja berkilah dengan menyorongkan mantra “pengarang sudah mati ketika karya sudah dipublikasikan”. Tapi ia menerima saja undangan-undangan itu dan memertanggungjawabkan novelnya semampu yang ia bisa, kendati dalam beberapa kali kesempatan kadang ia terlihat gemetar dan suaranya terdengar sedikit parau.
Din, begitu saya biasa memanggil ayahnya Dipa, mesti menanggung bermacam-macam teror itu gara-gara novel pertamanya yang berjudul “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”. Novel ketiganya, “Adam-Hawa”, membuat Din menerima fatwa dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
Untung saja novel kedua Din, “Kabar Buruk dari Langit”, tak banyak memancing reaksi ganas. Mungkin karena novel kedua Din tiga kali lebih tebal dari dua novel lainnya. Padahal, jika MMI sempat membaca bab pertama “Kabar Buruk dari Langit”, kemungkinan besar mereka akan jauh lebih murka.
Beapa tidak, pada bab pertamanya, Din sudah “menantang” polemik dengan menulis cerita yang diberi judul “Nuzulul Ganja”: fragmen tentang seorang kyai muda yang bertemu dengan Jibril pada malam 17 Ramadhan di tepi sebuah sungai, tapi Jibril di situ tidak membawa wahyu layaknya Muhammad menerimanya di Gua Hira, melainkan Jibril justru datang dengan membawa lintingan ganja yang selanjutnya dihisap mereka berdua dengan begitu khidmatnya. (anjrit, dari mana kau dapat nyali menulis macam jibril nggelek ini, Din?)
Dipa, saya kira, kelak akan tahu bahwa nama “wani” yang disandangnya tidaklah lahir dari satu ruang hampa sejarah. Nama itu mencerminkan –setidaknya—satu penggal periode kehidupan ayahnya, persis pada saat ia masih berada dalam kandungan.
Saya belum tahu apakah Dipa layak menyandang nama “wani” atau tidak. Dipa memang tak perlu terbebani dengan nama pemberian ayahnya. Ia hanya perlu menjalani hidup sebagai dirinya sendiri, melakoni hidup dengan sebaik-baiknya, mengguratkan catatan sejarahnya sendiri dengan tinta dan perbuatan yang akan dipilihnya secara merdeka.
Menjalani hidup sebagai diri sendiri, bukan sebagai anak si Anu atau keturunan si Inu sekaligus berani berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergelayut pada sorongan pertolongan dan rasa iba orang lain, dengan sendirinya sudah menjadi pilihan yang jauh dari kata pengecut. Melakoni hidup dengan cara yang diinginkan sendiri, merdeka dari segala kekangan atau dari sejumlah kepastian yang bisa membuat kreatifitas menjadi mandul, dengan sendirinya membutuhkan nyali tak sedikit dan karenanya menjadi sebuah pilihan yang rasanya layak disebut “berani”.
Catatan ini, yang membicarakan ke-wani-an alias keberanian, lahir begitu saja setelah saya menonton “Into the Wild” untuk kali kedua. Film yang disutradarai Sean Penn itu mengisahkan kehidupan Christhoper Johnson McCandless, seorang pemuda bermasa depan cerah, berotak cemerlang, yang lahir dari keluarga yang jauh dari kategori melarat, tapi mengambil pilihan hidup dengan begitu merdeka: melakukan perjalanan hebat menuju Alaska, tanpa tabungan, untuk kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam kesunyian alam yang begitu mencucuk.
Tidak, tidak, tidak seberani itu saya. Tapi senyum terakhir Chris beberapa saat menjelang kematiannya menerbitkan simpati saya, setidaknya membuat saya bergumam: “Aih, begitukah kematian yang datang saat hati sedang berbahagia?”
Saya tidak tahu persis apakah Chris berbahagia, itulah sebabnya gumaman saya diimbuhi tanda tanya diujungnya. Saya iri pada Chris yang berani –kendati sebagian orang amat bisa jadi akan menyebut Chris konyol.
Lagipula bukan di sana pokok soal yang ingin saya ajukan. Pokok yang ingin saya ajukan, setidaknya bagi saya sendiri, adalah: jika keberanian Wiji Thukul, Chris atau Din mungkin dirasa terlalu mewah buat saya, dengan cara apa lagi jika saya ingin menjalani sisa hidup ini dengan berani? Jika pertanyaan itu dirasa terlalu tinggi hati, baiklah saya ubah pertanyaannya: dengan cara apa saya melakoni sisa hidup ini tidak dengan cara yang pengecut?
Ini pertanyaan yang mengganggu. Untuk menjawabnya kadang saya merasa perlu memertimbangkan banyak hal; satu prilaku yang –dalam situasi tertentu—bisa jadi sudah cukup untuk didakwa sebagai “pengecut”, setidaknya kata Shakespeare.
“Terlalu banyak berpikir,” kata Shakespeare melalui mulutnya Hamlet, “Sebagian membuat kita arif, dan tiga bagian membuat kita pengecut!”
Akhirnya saya harus mengakui bahwa ada hal-ihwal yang terlalu lama saya salah-pahami. Saya terlalu kerap berhitung, terlampau sering bertimbang-timbang, teramat sering menyusun alasan.
Untuk pertama kalinya saya menyadari satu hal penting: keberanian tidak lahir karena banyaknya alasan yang mendorong seseorang jadi berani tapi justru karena sedikit sekali alasan atau bahkan tidak ada alasan sama sekali untuk menjadi berani!
Mungkin ini yang dimaksud Paul Tillich sebagai: “Courage to Be”!
Kamis, Mei 15, 2008
Wani
Diposting oleh zen di 8:00 PM 6 komentar
Minggu, Mei 11, 2008
Tua
At 60 you have six flaws, at 70 you have seven, and so on. Kata-kata itu diucapkan Johan, salah satu karakter utama dalam film “Saraband”, karya terakhir sineas Swedia, Ingmar Bergman.
Kata-kata di atas, bagi saya, seperti menjadi retrospeksi yang begitu padat tentang apa artinya menjadi tua, menjadi renta. Cacat di situ [“flaws”] bisa berarti sesuatu yang sepenuhnya fisikal. Tetapi, cacat [“flaws”] dalam kata-kata Johan juga bisa merujuk pada gugusan mental, struktur kepribadian, senarai ingatan dan kenangan atau berbuntal-buntal persoalan dan dendam berkarat yang belum dan tak akan pernah bisa diselesaikan.
Cacat-cacat itu [“flaws”] perlahan-lahan menjadi panggung di mana masa tua digelar dengan cara yang aneh, penuh kesepian, penyesalan, persaingan dan permusuhan tanpa ujung – sederet kondisi yang menjelaskan bagaimana masa tua bukan lagi menjadi momentum merayakan kehangatan dan kebahagiaan, melainkan menjadi drama yang penuh dengan ketegangan yang berbahaya bagi orang-orang yang sudah renta.
“Saraband” dipenuhi gambar-gambar statis, setting yang melulu di dalam ruangan yang remang-remang [lanskap pemandangan alam hanya muncul di menit-menit pertama], serta percakapan-percakapan berat dan nyaris tanpa humor membuat saya lebih mengerti kenapa Gie sering menyatakan kalau sesial-sialnya orang adalah yang hidup hingga tua.
“Saraband” tentu saja bukan satu-satunya film yang mengeksplorasi masa tua atau menghadirkan karakter orang tua. Beberapa di antaranya masih melekat dengan kuat dalam ingatan saya.
Saya tak akan pernah lupa karakter setengah gila tapi jenius dari pensiunan Kolonel Walter Kurtz yang luar biasa dalam mahakarya Coppola berjudul “Apocalypse Now” [Anda mesti menonton film ini dan nikmatilah sensasinya sembari menyimak The Doors]. Siapa yang akan lupa dengan suara berat Don Vito Corleone, mafioso tua yang masih mencoba memertahankan wibawa dan kekuasaannya dalam sekuel pertama Godfather [Marlon Brando yang memerankan Corleone ini pula yang memerankan Kolonel Walter Krutz].
Pribadi pensiunan Letkol Franks Slade yang buta dan flamboyan dan hendak bunuh diri dalam “Scent of Woman” juga terlalu menarik untuk dilupakan begitu saja [saya masih ingat adegan Al Pacino berdansa dengan seorang perempuan muda di sebuah restoran]. Tak ada salahnya Anda menyimak karakter karakter Baruch, seorang kakek berdarah Yahudi yang cerewet dan mencoba menutupi masa lalunya dalam film “Everything is Illuminated”. Menarik juga mencermati sosok Bobby Long, profesor sastra yang minggat dari kampus dan memilih tinggal di pinggiran kota bersama seorang bekas mahasiswanya dalam film “Love Song for Bobby Long”.
Renungan terbaru tentang masa tua saya simak dari dialog-dialog karakter Sherif Ed Tom Bell yang berambisi menangkap seorang psycho-pembunuh tapi justru lebih sibuk membaca koran, ngopi dan mengkhotbahi asistennya dalam “No Country for Old Man” yang menyabet Oscar tahun kemarin.
[Anda yang lebih rakus menonton film ketimbang saya pasti bisa dengan mudah menambahi judul-judul film di atas]
Ingatan saya juga masih lumayan kuat untuk mengingat beberapa karakter orang tua dalam sejumlah prosa.
Siapa yang tak kenal nelayan tua yang selama berminggu-minggu tak pernah memeroleh ikan bernama Santiago dalam “The Old Man and The Sea”-nya Hemingway [sungguh mengharukan membaca perjuangan Santiago memertahankan ikan besar yang berhasil dipancingnya dari serbuan hiu-hiu yang ganas].
Prosa-prosa Gabriel Garcia Marquez banyak menghadirkan sosok-sosok tua dan renta dengan karakter yang memikat. Ada tiga karakter dalam prosa Marquez yang saya ingat: neneknya Erendira yang cerewet, Melquiedes [kakek yang menyuntuki perkamen tua yang berisi ramalan tentang Macondo yang kelak semuanya terbukti akurat] dan –tentu saja— Kolonel Aurelio Buendia, generasi kedua klan Buendia yang pernah memimpin pasukan bersenjata dan punya 17 anak dari 17 perempuan yang berasal dari 17 kota yang berbeda. Menyedihkan membaca babak akhir novel dahsyat “One Hundred Years of Solitude” di mana Sang Kolonel menyaksikan bayi generasi terakhir klan Buendia tewas dirubung semut.
Kesepian yang aneh dan sublim juga saya rasakan dari karakter Eguchi yang tua dalam novelet Kawabata berjudul “House of the Sleeping Beauties”. Saya tak begitu kaget dengan karakter tua yang masih pergi ke rumah bordil. Tapi saya merasa aneh menyadari rumah bordil yang didatangi Eguchi itu hanya menyediakan perempuan yang boleh diajak tidur seranjang tanpa boleh disentuh sedikit pun. Sebelum masuk kamar, pelanggan dan perempuan yang menemaninya mesti nenggak obat tidur lebih dulu dan dalam hitungan waktu yang sudah diukur dengan cermat keduanya akan tidur bersamaan. Eguchi dikisahkan selalu mengenang masa-masa yang sudah dilaluinya sembari menahan berahi yang tak pernah bisa dia umbar karena aturan ketat rumah bordil yang aneh itu.
[Ismanto pasti bisa mengisahkan karakter-karakter tua dalam dunia prosa dengan lebih baik dan lebih banyak ketimbang saya, jika dia mau tentu saja]
“Saraband”-nya Bergman membawa ingatan saya yang makin pendek ini pada sosok-sosok tua dalam film atau prosa yang pernah saya tonton dan baca. Kilasan-kilasan ingatan tentang sosok-sosok tua tadi menyadarkan saya betapa seseorang tidak harus masuk surga/neraka lebih dulu untuk menelan hukuman atau menikmati upah atas semua yang sudah diperbuatnya di masa lalu.
Agak menggidikkan juga jika kelak saya mesti menghadapi masa tua dengan kenaasan seperti yang dialami beberapa karakter dalam film atau prosa itu tadi. Rasa-rasanya sangat tidak enak menjalani masa tua dengan dibayang-bayangi masa lalu yang belum sepenuhnya beres atau bahkan tak mungkin dibereskan.
Soren Kierkegard, salah satu filsuf penubuh eksistensialisme yang pernah dikecam warga sekotanya karena membatalkan begitu saja pertunangannya dengan seorang gadis, pernah menghadirkan satu kalimat bersayap yang bernada ironi. Katanya, “Life can only be understood backwards, but it must be lived forewards.”
Apa jadinya jika kalimat bersayap itu disodorkan pada karakter-karakter tua yang menjalani hari-hari terakhirnya dalam naas dan penyesalan?
Bagi yang sudah tua dan renta, kata-kata “but it must be lived forewards” jelas sudah tak banyak artinya. Masa depan bagi mereka adalah liang lahat yang sempit dan gelap. Paling banter mereka hanya bisa melakukan apa yang oleh Kierkegard bilang sebagai “life can only be understood backwards”. Sialnya, menengok ke belakang bagi karakter-karakter tua yang penuh nestapa macam itu sama saja dengan membuka selapis demi selapis penyesalan dan persoalan yang tak bisa lagi diselesaikan.
Saya kadang merasa, betapa beruntungnya Heidegger yang dianugerahi istri macam Elfriede Petri yang setia menemaninya menghabiskan masa tua, bahkan kendati Elfriede tahu suaminya itu berselingkuh dengan Hannah Arendt.
Apa pun itu, saya kira, masa muda memang begitu berharga. Bukan semata karena masa muda memungkinkan kita masih memiliki dan mengambil banyak pilihan. Lebih dari itu, masa muda menjadi penting karena dari situlah akan ditentukan seperti apa masa tua kita kelak.
Ini sebentuk pertaruhan yang tak sederhana: masa tua kita --amat bisa jadi-- dipertaruhkan oleh bagaimana kita menjalani masa muda.
Diposting oleh zen di 3:17 PM 8 komentar
Minggu, Mei 04, 2008
Musa
Tiba-tiba hari ini saya banyak memikirkan Nabi Musa. Sejumlah imajinasi nakal saya berkecambah ke mana-mana. Semuanya dipicu oleh presentasi hasil penelitian Irwin Braverman, seorang peneliti di Yale University.
Akhenaten, pharaoh dari dinasti mesir ke-18, ternyata mengalami mutasi genetika yang menyebabkan ia memiliki kecenderungan androgyni (semacam tendensi gabungan feminitas-maskulinitas dalam kepribadian). Setidaknya, begitulah hasil penelitian Irwin Braverman.
Jika itu benar, berarti Nabi Musa itu, ya... seorang androgyni, setidaknya kata Freud. Saya pernah membaca buku Freud berjudul "Moses and Monoteism". Nah, Freud mencatat Akhenaton ini (Freud sendiri menggunakan nama Akhnaton) tak lain dan tak bukan adalah Moses a.k.a Nabi Musa.
Irwin Braverman meneliti dan menganalisis gambar-gambar Akhenaten a.k.a Musa yang semuanya berkecenderungan feminin. Menurut Braveman, bentuk tubuh feminin Akhenaten itu terjadi akibat mutasi genetik. "Karena mutasi genetik ini, tubuh Akhenaten mengubah hormon laki-laki menjadi hormon perempuan jauh lebih banyak daripada yang dibutuhkan," katanya. Braveman juga yakin, bentuk kepala Akhenaten jadi tidak normal karena kondisi tulang tengkorak mulai menyatu pada usia dini.
Saya kira, analisis feminitas wajah Akhenaten itu tidak berlebihan. Pada masa kuliah dulu, terutama pada sesi kuliah Sejarah Afrika, saya pernah diberi tugas menyalin gambar Akhenaten yang memang sangat feminin dan lebih mirip perempuan.
(Kuliah itu diampu seorang master lulusan Chicago, namanya Dodi Soejono. Dia bukan hanya dosen paling eksentrik yang pernah mengajar saya, dia juga mungkin satu-satunya pakar sejarah Afrika di Indonesia. Dia bisa membaca hieroglyph. Sewaktu saya ujian susulan seorang diri, Dodi yang tua dan eksentrik serta mengijinkan saya merokok waktu kuliah dan ujian ini memberi soal ujian yang semuanya ditulis dalam huruf hieroglyph. Piye njawabe, coba?)
Kembali ke bukunya Freud. Buku “Moses and Monotheism” ini menarik perhatian saya karena eksplanasi Freud yang cukup mengejutkan. Perlawanan Musa terhadap ayahnya, yang dalam "historiografi" al-Quran terkenal dengan nama Firaun, ternyata dipicu oleh kecemburuan seorang anak terhadap ayahnya dalam berebut kasih sayang ibunya (dalam versi Qur'an, Musa ini adalah anak angkat Firaun, setelah ditemukan istri Firuan dalam sebuah peti yang dihanyutkan di sungi Nil).
Kata Freud, pengalaman seksual pertama anak laki-laki terjadi pada saat ia meneteki payudara ibunya. Meneteki payudara ibu itu, kata Freud, bukan hanya sebagai praktik konsumtif memamah sejumlah protein dan sejenisnya, tetapi pada saat yang sama juga si bayi mengalami kenikmatan seksual untuk kali pertama. Dari situlah persaingan anak dan bapak dalam berebut kasih sayang dan cinta ibu berlangsung.
Perlawanan Musa melawan Firuan dipicu –salah satunya—oleh perkara ini, dan bukan semata pertempuran antara monoteisme dan politeisme (Belakangan, teori oedipus complex disederhanakan melulu sebagai kecenderungan menyukai perempuan yang lebih tua).
Imajinasi saya lantas nggladrah ke mana-mana. Saya berpikir, jika tengara Bravemen benar, jangan-jangan itulah sebabnya Musa dikenal sebagai satu-satunya Nabi yang selalu runtang-runtung dengan Nabi yang lain yaitu Harun. Ini unik dalam kisah para Nabi. Imjinasi liar dan nakal membawa saya pada joke: ada hubungan khusus apa ya di antara dua Nabi ini? Secara, Musa itu Androgyni, gitu loch. Hihihihi….
Joke-joke macam itu pernah pula dialamatkan pada Rumi yang selalu bergantung pada sosok-sosok lelaki, dari Syams at-Tabrizi sampai Shalahuddin dan Hishamuddin (baca catatan saya tentang hubungan Rumi dan nama-nama itu di sini). Joke yang sama juga sering dialamatkan pada Socrates yang sering runtang-runtung dengan murid lelakinya, terutama antara Socrates dan Plato.
Ojo ditanggapi serius postingan iki, Dab!
Diposting oleh zen di 2:41 AM 10 komentar
Rabu, April 30, 2008
Menikah
Pada detik-detik paling sakral, saat akad nikah sedang khidmat-khidmatnya digelar, masa kecil yang indah dan tak mungkin kembali justru hadir seperti bayang-bayang yang merasuk-mendalam. Barangkali seperti guntingan-guntingan slide film yang disaksikan dengan mata berkaca oleh Salvatore di Vita pada bagian akhir film hebat “Cinema Paradiso”.
Semua detail dan rangkaian prosesi akad nikah itu saya ikuti dengan takzim. Pada setiap detail dan tahapan prosesinya, saya merasa masa silam terkelupas satu demi satu, selapis demi selapis, lalu lindap begitu saja menjadi sebuhul pengertian tentang apa artinya masa kecil dan apa pula makna persahabatan di antara empat anak laki-laki yang kini sudah bukan bocah lagi.
Pagi itu, empat sahabat dari masa silam berkumpul kembali. Salah satu di antaranya, namanya Asep Rusdiana, seorang sarjana teknik lulusan UNDIP, melangsungkan pernikahan dengan seorang perempuan cantik dengan mata indah serta senyum yang selalu terasa pas, namanya Sulastri. Tiga lainnya adalah Wawan Suwandi, seorang buruh pabrik di Bogor yang menikah pada 2005 dan sudah dianugerahi seorang anak serta Karyono, seorang pedagang bakso di Cirebon yang menikah setahun lalu. Satunya lagi, ya… saya ini.
Saya merasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya bermain bola dengan Asep di lapangan bola dekat sungai berair bening itu. Rasanya baru kemarin saya memboncengnya naik sepeda untuk pergi ke madrasah tempat kami belajar agama selepas dzuhur.
Saya punya banyak sekali kenangan masa kecil dengannya. Kami berdua menghabiskan masa SD pada pagi hari (dengan Wawan dan Karyono), sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah selepas dzuhur (bersama Wawan, sementara Karyono tak selesai di Madrasah), mengaji di "tajug" (surau) Abah Juli selepas maghrib (kami berempat mengaji di tempat yang sama), menghabiskan masa SMP di SMPN-1 Karangsembung (berdua dengan Asep, karena Wawan dan Karyono sekolah di SMP yang lain).
Kami berempat selalu bersaing dalam pelajaran di SD. Saya bergantian rangking satu dengan Asep, sementara Karyono dan Wawan rebutan rangking tiga dan empat. Sewaktu hasil EBTANAS diumumkan, peta rangking berubah: saya rangking empat, Wawan rangking tiga, Asep rangking dua, sementara rangking pertama tiba-tiba diisi oleh teman perempuan kami, namanya Dede Ela Sulastri, sarjana pertanian lulusan UGM yang pada Juli depan juga akan melangsungkan pernikahan dengan lelaki dari Jogja.
Memasuki masa SMA, kami berempat berpisah sekolah. Tapi persahabatan terus berlanjut karena setiap sore, selepas sekolah, kami selalu menghabiskan waktu bersama, bermain bola di lapangan. Kami berempat selalu menjadi starter di kesebelasan kampung. Karyono sebagai kiper, Wawan sebagai sayap kanan, Asep sebagai gelandang bertahan dan saya sebagai striker. Posisi yang sama itu berlanjut di kesebelasan Kecamatan sewaktu digelar turnamen Bupati Cup. Saya sendiri menjadi kapten kesebelasan dan terpilih memerkuat kesebelasan Cirebon dalam Piala Haornas dan –lagi-lagi—dipercaya sebagai kapten kesebelasan.
Tapi, di antara empat sahabat kecil itu, saya memang paling dekat dengan Asep. Kedekatan dua bocah ini juga mendekatkan dua keluarga. Kami berdua layaknya saudara. Tanggal lahir kami hanya berselisih 20 hari, saya 16 April dan Asep 6 Mei. Tahun kelahirannya sama.
Asep seorang bocah yang lurus hati, jujur, dan tulus. Ketulusannya, saya kira, tergambar dari wajahnya yang selalu bersih dan bersinar. Saya tak pernah meragukan kesalehannya. Masa kuliah pun dilaluinya dengan lurus-lurus saja. Saya kadang merasa karakter kami berselisih 180 derajat. Sedari kecil saya selalu paling jahil, paling badung, selalu mengajaknya bolos sekolah dan membujuknya untuk lebih baik bermain bola saja. Saya selalu memanfaatkan kepolosannya untuk mengajaknya main ke tempat yang saya inginkan.
Waktu kecil dulu, Asep adalah bocah dengan fisik yang terlihat paling ringkih dibandingkan tiga orang lainnya. Saya selalu merasa punya fisik lebih baik, bukan hanya dibandingkan Asep tapi juga dengan yang lain --satu klaim yang saya kira tak bisa lagi dipertahankan setelah saya menginjak tahun ketiga kuliah.
Tapi daya tahan fisik saya waktu kecil hingga SMA memang tangguh. Ssekali saya menantang tiga teman saya untuk berkejaran siapa yang lebih dulu sampai di sekolah madrasah. Ini adu balap antara Asep, Wawan dan Karyono yang naik sepeda, sementara saya sepenuhnya mengandalkan kaki dan berlari. Saya sering memenangkan adu balap ini. Dengan berlari menyelinap di antara gang-gang kecil, sela-sela rumah penduduk dan menerobos kebun bambu dan kebun kacang, saya lebih sering tiba di madrasah lebih dulu.
Sewaktu pertama kali menonton film “Forrest Gump”, yang tokoh utamanya diperankan Tom Hanks dan dikisahkan selalu berlari, saya langsung ingat masa kecil itu tadi.
Dulu saya selalu berlari, berlari dan berlari. Jika diperintahkan ibu untuk pergi ke pasar, saya pasti pergi dengan berlari. Tiap pagi saya berlari. Minggu pagi saya rutin berlari sejauh 10 kilometer. Pada masa SMA, sepulang sekolah, sekitar jam 2 siang, saya juga berlari di lapangan bola. Saya pernah mencatat waktu 11,9 detik untuk menempuh jarak 100 meter. Pada 1989, Mardi Lestari memecahkan rekor Asia untuk lari 100 meter dengan catatan waktu 10,20 detik.
Sorenya, selepas ashar, saya kembali berlari, kali ini dengan bola di kaki. Saya sering memanfaatkan sprint saya untuk mengelabui bek-bek lawan. Asep, sebagai gelandang, sering memanjakan saya dengan bola-bola terobosan yang akan saya kejar sekuatnya, saya kontrol sekali, lalu sering saya akhiri dengan shooting. Kami berdua sering berlatih sendiri. Asep berlatih mengirim umpan-umpan terobosan, sementara saya berlatih mengejar bola-bola terobosan itu dan berlatih memertajam penyelesaian akhir.
Asep seorang gelandang bertahan yang tangguh. Fisiknya yang terlihat ringkih tak akan terlihat jika sudah berada di lapangan. Jika kesebelasan kami bertemu dengan musuh yang diperkuat seorang striker yang licin, Asep bisa berubah menjadi seorang stopper yang liat mengikuti ke mana pun pergerakan striker lawan.
Saya juga sering mengejar layang-layang. Saya tidak begitu ahli bermain layang-layang. Wawan dan Karyono jauh lebih jago. Jadinya, saya lebih sering mengejar layang-layang yang putus, mengejarnya ke mana pun, ke sawah, ke kebun tebu, ke mana pun. Asep selalu mengikuti saya di belakang. Jika layang-layang itu bisa saya dapatkan, saya dengan senang hati menyerahkannya pada Wawan atau Karyono.
Ah, jika sudah ingat fragmen mengejar layang-layang itu, rasa-rasanya saya seperti Hasan dalam cerita indah tentang persahabatan dua sahabat, "The Kite Runner", yang ditulis Khaleed Housaini.
Beberapa saat sebelum akad nikah, Asep bertanya apa saya masih sering berlari. Saya jawab: tidak. Tapi, kata saya lagi, saya masih terus berlari, tidak dengan kaki, tapi dengan pikiran saya.
"Apa yang kamu kejar? Kaki langit? Masak kaya Yonkuro," katanya setengah bercanda. Yonkuro adalah karakter utama dalam film kartun yang kami sering tonton waktu kecil. Yonkuro adalah seorang "pembalap" mobil-mobilan tamiya. Dia selalu berlari mengejar kaki langit, menuruti petuah ayahnya, seorang pembalap yang raib dan tak pernah lagi dilihat Yonkuro.
Saya tersenyum mendengar pertanyaan Asep. "In the long run, men only hit what they aim at". Kata-kata Henry David Thoreau, penulis cerita ekologis yang sudah menjadi klasik, "Walden", hanya saya ucapkan dalam hati saja.
Jika libur tiba, kami sering menghabiskan waktu di sungai. Dengan menggunakan ban mobil bagian dalam yang sudah dipompa, kami mengarungi sungai dengan duduk di atasnya, melewati batu-batu besar, melewati lubuk-lubuk sungai yang dalam, laiknya melakukan olahraga arung jeram. Pulangnya, kami selalu mampir di kebun tebu, mencuri tebu dan menggunakannya untuk mengusir rasa haus.
Ada satu tempat favorit kami. Di tengah sawah, ada pohon mangga besar dan rindang. Itulah satu-satunya pohon besar yang ada di tengah hamparan sawah yang terletak di sebelah selatan kampung. Pohon rindang itu terlihat dari jauhan karena pohon itulah satu-satunya dan pohon itu pula yang tertinggi. Di bawahnya ada sungai kecil dengan airnya yang jernih. Kami sering mencuci pakaian kami yang kotor di situ, bergantian, sementara yang lain duduk-duduk manis di atas dahan-dahan pohon mangga dengan kaki berjuntai ke bawah.
Di sela-sela acara main-main itu kami sering bercakap-cakap, tentang Persib Bandung dan Robby Darwis, tentang teman-teman perempuan kami yang cantik, tentang rencana menonton layar tancap, tentang rencana “rurugan” (adu tanding) bola dengan anak-anak kampung sebelah, tentang cita-cita dan masa depan, tentang banyak hal.
Salah satu percakapan yang masih berdentang nyaring dalam ingatan, dan sempat kami percakapkan kembali beberapa saat sebelum akad nikah Asep dilangsungkan, adalah soal pertaruhan masa kecil dulu tentang siapa yang paling akhir akan menikah di antara kami. Waktu itu kami bertaruh: siapa yang menikah paling belakangan berhak meminta apa saja dari tiga teman lainnya.
Sejak dulu saya sudah sangat yakin bahwa saya yang akan memenangkan pertaruhan ini. Dan saya memang memenangkannya!
Semua-mua ingatan itu hadir kembali pada akad nikah yang saya saksikan itu. Rasanya baru kemarin semuanya berlangsung. Tiba-tiba saja Asep sudah menikah dan tiba-tiba saja hanya saya sendiri yang belum. Begitu cepat rasanya waktu berlalu. Ya, sangat cepat.
Saya merayakan pernikahan Asep sebagai momentum terbaik untuk mengenang dan merenungkan semua masa kecil yang sangat indah itu, masa kecil yang nyaris tanpa cactat itu. Pengalaman masa kecil tadi sangat berharaga dan –bagi saya—tak kalah dengan cerita masa kecil Andrea Hirata seperti yang pernah saya baca pada “Laskar Pelangi”.
Sewaktu keluarga Asep sendiri sudah pulang dari resepsi, Wawan dan Karyono pun sudah pulang ke kediaman masing-masing, saya memilih untuk tetap di tempat pernikahan, menemani Asep melewati hari terhebatnya. Saya duduk di pojok hingga menjelang Isya’. Sendirian.
Kontemplasi Milan Kundera tentang persahabatan, seperti ditulisnya dalam novelet “Identity” (yang saya baca dari terjemahan Mas Landung), rasanya begitu pas direnungkan pada momen-momen begini.
Teman masa kecil, kata Kundera, adalah cermin bagi kita, cermin yang memantulkan masa silam kita. Teman masa kecil dibutuhkan untuk menjaga keutuhan masa silam, untuk memastikan bahwa diri tidak menyusut, tidak mengerut, bahwa diri tetap bertahan pada bentuknya. Untuk itu, ingatan mesti disiram seperti bunga dalam pot. Karenanya kita memerlukan kontak dengan teman dan sahabat masa kecil, sebab merekalah saksi mata dari masa silam.
Saya tidak meminta apa-apa pada mereka kecuali bahwa mereka mengelap-lap cermin itu dari waktu ke waktu supaya saya bisa melihat diri sendiri di situ.
Ya, kalian bertiga adalah cermin bagi saya.
Diposting oleh zen di 7:16 PM 14 komentar
Menjelang Berakhirnya Pasar Malam
-- Mengenangmu, Pram....
[re-post, karena saya pernah bejanji untuk memajang catatan detik-detik kematian pramoedya di front-page blog ini tiap 30 april, tanggal kematian maestro yang saya dapuk sebagai guru ini. catatan ini pernah diterbitkan panitia fky 2007 dalam buku berjudul "tongue in your ear"]
Semalaman, dari jam setengah 10 malam sampai Minggu pagi, saya berada di kediaman Pram di Utan Kayu. Bersama sejumlah teman, saya mengalami langsung, menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana Pramoedya meregang nyawa, melawan maut, dan kemudian menyerah.
Mengingat kembali proses-proses itu, saya seperti sedang membaca kembali Bukan Pasar Malam.
Saya datang ke rumah Pramoedya sekitar pukul 22.30, Sabtu malam, bersama Ella Devianti, gadis cantik yang baru saja menelurkan novel pertamanya, Paradoks Maggy. Sesampainya di sana, saya langsung disuruh masuk ke halaman rumah Pram. Saya lihat masih banyak orang di sana. Ada beberapa reporter televisi sedang menenteng kamera. Yang saya lihat secara jelas hanya reporter SCTV.
Rumah Pram 2 meter di atas jalan, dan memasuki halamannya berarti kita mesti menaiki jalan masuk yang menanjak. Di sana saya belum melihat satu pun orang yang ku kenal. Saya duduk sesaat di tanjakan halaman rumah, persis di sebelah seorang lelaki paruh baya yang duduk tercenung.
Saya beranikan diri bertanya: “Bagaimana kabar si Bung?”
“Saya tak tahu persis. Katanya malah sudah meninggal,” jawabnya pendek. Ia langsung menunduk begitu usai menjawab
Saya terhenyak. Saya tak percaya tentu saja. Sebab 15 menit sebelum sampai, Muhidin M Dahlan, karib dan rekan sekantor, mengabarkan Pram masih bertahan setelah melewati masa krisis sebanyak tiga kali. Saya juga tak percaya karena sebelum berangkat saya sempat membuka detik.com, dan di sana dikabarkan bahwa Pram masih bisa bertahan, dan bahkan minta sebatang rokok kesayangannya, Djarum Super.
Saya tengok kanan-kiri. Saya lihat beberapa orang yang ku kenal. Bersama Ella saya kemudian mendekati mereka yang duduk mengelilingi sebuah meja kaca, persis di samping kanan rumah. Saya bertanya pada Muhidin. Dan Chavchay Syaifullah, wartawan Media Indonesia yang baru saja melaunching bukunya tentang Chairil Anwar, menjawab: “Aman, bung. Terkendali!”
Saya lega. Saya hisap sebatang rokok. Dua batang rokok. Tiga batang rokok. Sembari terus saja bercakap-cakap. Membincangkan apa saja. Selama proses inilah belasan sms dari karib-karib saya masuk menanyakan kebenaran kabar wafatnya Pram. Sekitar pukul setengah 12, sms Faiz Ahsoul masuk, juga menanyakan kabar Pram.
Saya jawab: “Pram masih bertahan. Dia baru saja melewati krisisnya yang ketiga. Dan dia malahan meminta rokok.”
Selain kepada Faiz, sms itu juga saya kirim ke Arief Santoso, redaktur budaya Jawa Pos.
10 menit kemudian Faiz kembali membalas. “Syukurlah. Saya sedang di Kaliurang, menyaksikan Merapi yang mulai memanas. Mungkin Pram dan merapi sudah berjanji saling menunggu.”
Saya diam. Tak ku jawab sms itu.
Kemudian Susilo Ananta Toer, adik termuda Pramoedya keluar menemui beberapa wartawan televisi. Susilo bilang bahwa Pram pernah berjanji untuk bertahan hingga 100 tahun. “Bertahan, Bung. Ini baru 81, belum seratus!"
Saya tersenyum. Siapa yang tahu dan siapa yang sebetulnya menentukan usia?
Yang saya tahu, Susilo pula yang sempat bersikukuh agar Pram tetap dirawat di RS Carolus. Susilo tidak ingin kejadian di mana ayah mereka akhirnya wafat setelah 3 hari dibawa pulang dari rumah sakit. Hal itu bisa dibaca dalam Bukan Pasar Malam.
****
Di hari Minggu yang masih begitu dini, kurang lebih sekitar jam 2 pagi, Astuti Ananta Toer, putri yang begitu dekat dengan Pram, tiba-tiba menghambur dari kamar tempat ayahnya dibaringkan. Ia berteriak-teriak: “Oma… Oma….”
Waktu itu tamu dan pelayat sudah banyak yang undur. Ointu gerbang berwarna hiau sudah ditutup. Kami, yang ada di sebelah kanan kediaman Pram di Utan Kayu, refleks bangkit dari masing-masing duduknya dan langsung menghambur masuk ke dalam kamar depan tempat Pram dibaringkan.
Saya dan yang lain hanya diam terpaku, di ruang tamu, dengan mata yang nanar menatap dari kejauhan, terdengar jelas hentakan nafas satu-satu yang susah payah dihela Pram. Maestro yang dikagumi ribuan anak muda itu tampak tergeletak lemah. Ia diselimuti dengan selimut berwarna coklat bercorak kembang putih-putih. Sepasang lengannya mengenakan sarung tangan berwarna hitam. Sejumlah selang menancap di pergelangan tangan dan hidungnya. Infus dan oksigen.
Saya berada persis di ujung sepasang kaki Pram. Saya lihat sepasang kakinya keluar dari selimut. Sepasang kaki yang lemah dan tampak letih. Dibungkus kaus kaki coklat tipis.
Kembali saya ingat Bukan Pasar Malam. Si tokoh, pada kedatangannya yang pertama mengunjungi ayahnya yang terbaring sakit, memerikan bagaimana sepasang kaki ayahnya; sebuah pemeriaan yang secara luarbiasa akhirnya terulang pada diri Pram sendiri.
“Kudekati ranjang ayahku, kuraba kakinya yang kering. Hatiku tersayat. Bukankah kaki itu dulu seperti kakiku juga dan pernah mengembara ke mana-mana? Dan kaki itu terkapar di atas kasur ranjang rumahsakit. Bukan kemauannya. Ya, bukan kemauannya. Rupa-rupanya manusia ini tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya. Dan kelak begitu juga halnya dengan kakiku.” (Bukan Pasar Malam, hal. 48).
Ya…. Seperti juga Pram yang meraba kaki ayahnya, saya menyentuh kaki Pram yang masih menyisakan sejumput udara hangat. Saya melolosi sepasang kaus kaki coklat tipis yang membungkus sepasang kaki Pram yang letih dan berkarat oleh waktu dan sejumlah pengkhianatan.
Saya ingat Yukio Mishima, sastrawan Jepang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara seppuku yang luarbiasa dramatis, sebuah gaya artisitik memerlakukan kematian tak ubahnya sebuah panggung teater. Mishima yang bunuh diri pada 1970 itu juga pernah menulis sebuah novelet, sama seperti Bukan Pasar Malam, judulnya Patriotisme. Di cerpen itu, Mishima mengisahkan secara detail bagaimana seorang perwira Jepang melakukan seppuku. Dan sungguh menakjubkan, Mishima juga mati dengan cara yang sama seperti ia pernah tuliskan sebelumnya dalam novelet Patriotisme itu.
Pikiran saya ke mana-mana. Saya berdiri persis di tiang tempat di man botol infus digantungkan. Saya perhatikan botol infus itu. Saya perhatikan, tetes-tetes infus begitu lambat menetes. Dan semua orang, saya kira, juga merasa detik begitu lama beranjak. Lama sekali. Saya pernah ingat seorang suster yang dulu semasa kecil pernah merawat saya sewaktu saya diterjang penyakit demam berdarah. Kata dia, kalau infus cepat habisnya berarti yang dirawat itu ada kemungkinan pulih, sementara jika infus begitu lama habisnya, itu pertanda buruk.
Saat itu saya sadar kalau Pram sedang meregang nyawa. Susah betul ia menarik nafas. Sesekali dagunya terangkat. Mungkin untuk memudahkan masuknya oksigen. Tangannya lemah terkulai. Mujib menggenggam tangan kiri, Oma (panggilan untuk istri Pram) bergantian menggenggam tangan kanan.
Lagi-lagi entah siapa yang memulai, tampaknya Mbak Titik (panggilan Astuti), beberapa orang yang hadir mulai menggumamkan do’a. Ada yang menggumam dalam hati, dan ada yang setengah berteriak. Seisi kamar seperti bergetar oleh do’a dan himpunan kalimat-kalimat suci.
Taufik Rahzen memecah suasana sakral dan menyayat itu dengan suara setengah berteriak: “Bung Pram… Bung Pram…..”
Rahzen mencoba menyadarkan, berupaya agar Pram tak kehilangan kesadaran.
Beberapa saat kemudian, Mbak Titik, dengan nada antara kasihan melihat Pram yang meregang nyawa dan campuran rasa frustasi takut kehilangan, tiba-tiba berkata dengan keras: “sudahlah… biarkan dia pergi. Kasihan. Kasihan dia….”
Seisi kamar terhenyak. “Jangan, Bung! Jangan menyerah, Bung!” batin saya dalam hati seperti hendak menolak rasa pesimis yang pelahan mulai merayap.
Tapi kali ini Pramoedya masih bertahan. Pelan tapi pasti, setelah 45 menit meregang-regang, ia kembali berhasil menguasai kesadarannya. Nafasnya mulai teratur.
“Opa… opa….” teriak Mbak Titik.
Pram menengok ke arah Mbak Titik.
Seantero kamar menarik nafas lega. Pram sadar kembali.
****
Tetapi itu tak lama. Sekitar pukul 03.15 pagi, Pram kembali diterjang krisis. Kali ini lebih menyesakkan untuk disaksikan.
Saya lihat bagaimana orang yang berdiri tegar sendirian bertahun-tahun lamanya, dipenjara di semua rezim yang pernah berkuasa di sini (di penjara kolonial Belanda, rezim fasis Jepang, zaman Soekarno juga Orde Harto), tampak megap-megap. Dagunya sesekali terangkat. Ia berulang kali mengubah-ubah posisi tangannya. Sekali waktu ia merentangkan sepasang tangannya, dengan wajah terangkat, seperti hendak menantang duel sang maut. Kali lain ia meletakkan dua tangannya di atas kepalanya. Tentu saja masih dengan deru nafas yang makin lemah dan patah-patah.
Deru do’a makin kencang menghambur dari seantero kamar. Semua-muanya. Tak terkecuali saya. Dalam hati tentu saja. Saya tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya meregang nyawa, menempuhi sekarat, bertarung dengan malaikat penjagal nyawa. Saya ingat sebuah do’a Rasulullah yang memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari sakitnya meregang nyawa, yang kata Rasul, sakitnya tujuh kali lebih menggidikkan dari sayatan pisau yang paling tajam.
Saya bergidik. Begini rupanya meregang nyawa. Hih…. Dan, jujur saja, baru sekali itulah saya lihat orang sekarat. Dan entah ini anugerah ataukah kutuk, pengalaman pertama menyaksikan orang sekarat itu justru ketika Pram, orang yang saya anggap sebagai guru, yang menjadi “aktornya”.
Berkali-kali, Yudistira dan Astuti memegang lengan kiri ayahnya. Sesekali mereka mendekatkan kuping ke mulut Pram, berjaga jika sewaktu-waktu Pram membisikkan pesannya yang terakhir. Yudis sesekali membacakan kata-kata suci ke telinga ayahnya.
Saya tak tahu apa yang ada dalam batin Pram ketika di detik-detik terakhir hidupnya ia dido’akan, dihujani oleh kata-kata yang diyakini suci. Adakah Pram menolak? Mungkinkah Pram menampik?
Pelan-pelan saya khawatir, jangan-jangan Pram merentangkan tangan atau menggeleng-gelengkan kepala sebetulnya sebagai bentuk penolakan Pram atas cara keluarga, karib dan pengagumnya memerlakukan dirinya. Saya khawatir, jangan-jangan Pram hanya ingin mati dengan caranya sendiri, bukan seperti cara orang-orang yang saat itu ada di sampingnya sewaktu sedang bertarung dengan wabah maut.
Tapi kita tidak pernah akan tahu apa yang ada di kepalaPram saat itu. Kita tak akan tahu apakan Pram menolak atau tidak. Dan kita juga tak akan tahu bagaimana sebetulnya Pram ingin menghadapi maut. Lagipula, saya dan barangkali semua orang yang hadir yang mendoakan Pram dengan kata-kata suci yang dalam seumur hidup Pram jarang sekali ia ucapkan, hanya bergerak mengikuti insting, naluri. Saya, dan barangkali juga yang lain, tak pernah terlintas pikiran hendak meng-Islam-kan Pram, sebab saya dan yang lain juga tak tahu apakah Pram muslim atau bukan.
Saya ingat Pram pernah berkata bahwa orang ateis yang menjadi ateis karena pilihan sadar biasanya adalah orang yang paling banyak memikiran Tuhan. “Orang ateis,” dalam kata-kata Pram sendiri, “adalah mereka yang telah melewati banyak ‘stasiun’ pemberhentian.”
Saya tak tahu Pram sudah melewati berapa stasiun. Yang saya tahu, Pram, seperti bisa kita baca dalam Bukan Pasar Malam, membisikkan kata-kata suci yang memuji kebesaran Tuhan ke telinga ayahnya yang baru saja meninggal dunia, 57 tahun lalu, di pengujung warsa 1949 yang muram.
Sejarah barangkali adalah sebentuk persilangan dan tumbukan antara satu pengulangan menuju pengulangan yang lain. Semacam circle. Tak peduli betapa para sejarawan memeluk teguh doktrin ein malig, sejarah hanya terjadi sekali.
Di jam-jam terakhirnya itu, saya, lewat sebuah koinsidensi yang menakjubkan, bisa berada langsung melihatnya, menjadi penyaksi dari satu tahap paling genting setiap manusia: mati!
Pada fase krisisnya yang terakhir, sebelum kemudian ia meninggal pada jam 9 pagi itu, saya menyaksikan bagaimana Pram terus dikendalikan oleh hidupnya, kenangannya, dan aktivitas-aktivitas hidupnya.
Di tengah-tengah badai lara yang makin menyiksa, dengan suara yang parau dan nafas megap-megap, Pram masih sempat menanyakan kabar apakah sampah sudah dibakar.
Pram memang punya hobi aneh: membakar sampah. Jika kita baca Nyanyi Seorang Bisu, kumpulan surat-surat Pram untuk anak-anaknya yang ditulis dari Buru, kita akan tahu bahwa membakar sampah adalah salah satu cara menyibukkan diri seorang Pram selama diburu. Membiarkan diri melamun kosong di pulau pengasingan yang mengerikan sama saja dengan menyerahkan jiwa kita pada kegilaan. Membakar sampah adalah cara Pram melawan waktu yang menggerus, sekaligus sebentuk rsistensi Pram atas pengkondisian rezim Harto yang memang menginginkan agar dia jatuh bukan oleh tangan-tangan kasar aparat, melainkan jatuh dalam kegilaan dirinya sendiri.
Dan Pram tak hanya ingin membakar sampah. Ia juga ingin jenazahnya dibakar, dikremasi. Bukan dikubur. Permintaan yang kelak tak dikabulkan keluarganya.
Yang membuat saya makin tergetar adalah betapa Pram dalam perlawanannya yang terakhir terhadap kematian, akhirnya luruh juga dalam ketakutan. Saya saksikan bagaimana Pram menitikkan air mata. Berkali-kali. Anaknya Yudistira Ananta Toer, dalam perbincangan beberapa jam sebelumnya, mengatakan bahwa ia tak pernah melihat Pram menangis, baik menangis terharu maupun menangis karena sedih, tidak juga ketika Pram pertama kali kembali ke rumahnya di Utan Kayu setelah sepuluh tahun lebih diasingkan ke Pulau Buru.
Tetapi Pram akhirnya masih bisa bertahan juga, seperti memenangkan sebuah ronde dari serangkaian pertandingan melawan maut. Pukul 4 pagi Pram kembaali bisa tersadar.
****
Saya dan beberapa teman akhirnya pamit undur dari rumah Pram. Saya letih. Lelah. Semalaman tak tidur. Tapi yang jauh lebih membikin letih adalah pengalaman menyaksikan seorang Pram, yang sama-sama kami kagumi itu, meregang nyawa, menahan sakit, melawan kematian.
Ya, saya percaya Pram memang melawan sebisanya. Ia masih ingin hidup hingga 100 tahun. Ia masih ingin bertemu dan berdialog terus menerus dengan angkatan muda yang ia harapkan bisa mengembalikan laju Indonesia ke relnya yang benar. Ia juga masih ingin menyelesaikan Ensiklopedi Citra Kawasan Indonesia yang baru tergarap sebagian, kendati sebagian di sini artinya bahan-bahan itu telah menumpuk setinggi 3 meter lebih.
Saya juga yakin Pram akan bertahan. Tidak, Bung Pram pasti bisa bertahan. Pasti. Begitu saya mencoba meyakinkan diri sendiri.
Tetapi saya keliru. Ketika sedang berada di bus kota, sekitar pukul 9 pagi, sebuah sms dari Taufik Rahzen yang isinya pendek sekali, tapi justru membikin dada seperti runtuh: “Pram baru aja jalan….”
Semenit kemudian sms Muhidin masuk. Isinya membikin badan meriang: “Pram telah meninggal dunia. 09.02. Inilah erangannya yang terakhir: “Saya tak kuat. Bakar saya dalam mati saya.”
Saya menyesal tak ada di sampingnya ketika ia terbang pergi. Saya menyesal. Sangat.
Di atas bus kota yang reyot yang membawa saya ke arah Tanjung Duren di wilayah Jakarta Barat itulah saya terima kabar kematiannya. Saya kirim sms pendek ke semua teman yang bisa saya hubungi. “Pram wafat. Barusan.”
****
Pram dimakamkan di Karet, satu pemakaman dengan si binatang jalang Chairil Anwar. Ia memang diantarkan oleh ribuan pelayat dan anak muda yang mengaguminya. Ia dimakamkan secara islami, kepergiannya juga diiringi oleh Internationale dan Darah Juang.
Tetapi pada akhirnya ia pergi sendiri. Sendirian. Sesuatu yang sudah dipahami oleh Pram 57 tahun sebelumnya. Dalam paragraf penutup Bukan Pasar Malam, Pram menulis sesuatu yang akhirnya ia alami juga:
“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pada kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.”
Jakarta-Jogja, 5-6 Mei 2006
Diposting oleh zen di 6:27 PM 13 komentar
Minggu, April 27, 2008
Kereta
--Mengenangmu, Ril….
Saya merasa sajak ini begitu imajinatif menggambarkan rasa pedih dan perih. Rasa pedih dan perih itu serasa diuraikan satu per satu, perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran, mungkin seperti mengupas kulit ari selapis demi selapis. Fakta bahwa uraian imajinatif ihwal rasa pedih dan perih itu digambarkan melalui metafora “kereta”, moda transportasi yang begitu saya sukai, makin membuat sajak itu punya tempat tersendiri dalam hati.
Saya sedang (akan) membicarakan sajak Chairil Anwar yang berjudul “Dalam Kereta”, salah satu sajak Chairil yang mungkin amat jarang dikenal orang, kalah jauh terkenal dari sajak “Aku”, “Krawang-Bekasi”, atau “Senja di Pelabuhan Kecil”.
Sajak ini termuat dalam antologi sajak Chairil yang berjudul “Kereta Api Penghabisan”. Anda mungkin baru mendengar antologi itu. Jangan khawatir, bukan hanya Anda saja yang baru mendengar. Entah siapa orang yang masih punya cetakan antologi itu. Kabarnya, antologi itu hilang di rimba yang entah.
Nah, sajak “Dalam Kereta” adalah satu-satunya sajak yang “terselamatkan” dari antologi “Kereta Api Penghabisan” – yang kehilangannya oleh Saut Situmorang disebut sebagai “moksa puitis”.
Di situ saja sudah muncul satu koinsidensi yang menarik. Apa yang bisa kita takik dari kenyataan bahwa satu-satunya sajak dari antologi “Kereta Api Penghabisan” yang raib ternyata berjudul “Dalam Kereta”?
Dua judul itu, satu judul antologinya dan satunya lagi judul salah satu sajaknya, sama-sama memuat kata “kereta”. Saya ingin berandai-andai, mungkin Sang Maha Puisi memang sengaja (hanya) menyelamatkan sajak “Dalam Kereta” dari –jika istilah Saut bisa dikutip lagi-- “moksa puisi”, dari keraiban. Jika pengandaian puitik itu benar, bisakah itu dibaca sebagai kemungkinan bahwa (jangan-jangan) sajak “Dalam Kereta” memang bisa merepresentasikan isi antologi “Kereta Api Penghabisan”?
Entahlah. Saya tak ingin melanjutkan pengandaian yang amat bisa jadi meleset itu. Tapi untuk satu hal ini saya tak sedang berandai-andai. Begini:
Pada tahun-tahun antara 1945-1949, salah satu penggal kehidupan Chairil yang penuh nyala api kreatifitas (Chairil check out dari muka bumi pada 28 Februari 1949), kereta punya tempat yang istimewa dalam korpus kesadaran dan ingatan kaum republiken.
Soekarno-Hatta, pada awal Januari 1946, pindah ke Jogjakarta dengan mengendarai sebuah kereta malam melalui sebuah perjuangan yang dramatis. Kereta berhenti di dekat kediaman Soekarno di Pegangsaan Timur –mungkin di sekitar stasiun Cikini sekarang—selepas maghrib. Soekarno-Hatta dan keluarganya berikut sejumlah pejabat republik sudah bersiap di kediaman Sokarno. Begitu kereta datang, mereka naik kereta malam tersebut. Dari Jakarta hingga Bekasi, kereta bergerak tanpa satu pun lampu dinyalakan untuk menghindari penciuman intelijen Belanda. Kereta akhirnya tiba di Stasiun Tugu keesokan harinya dan Sultan Hamengkubuwana IX sudah menyambut di ujung peron. Kisah Jogjakarta menjadi ibukota di mulai dari situ.
Sjahrir, yang waktu itu menjabat Perdana Menteri, untuk sementara masih tinggal di Jakarta. Untuk pergi-balik Jakarta-Jogja, Sjahrir punya kereta khusus. Ben Anderson, dalam disertasinya yang sudah menjadi klasik, “Revolusi Pemuda” – pernah menggunakan metafora “kereta Sjahrir” itu untuk menunjukkan pola diplomasi dan kecenderungan politik Sjahrir yang sukar ditebak.
Tentara dari Divisi Siliwangi yang hijrah ke kantung-kantung Republik di Jawa Tengah dan Jogjakarta, diangkut dari Cirebon (tepatnya di stasiun Parujakan yang khusus melayani barang dan penumpang yang menuju jalur utara via Tegal dan Semarang) dengan mengendarai kereta. Mereka juga turun di Stasiun Tugu dengan disambut gadis-gadis palang merah yang mengelu-elukan mereka. (foto di atas menceritakan Bung Hatta sedang menyambut kedatangan pasukan Siliwangi di Stasiun Tugu pada 12 Februari 1948)
Mungkin dari situlah Ismail Marzuki pernah menciptakan lagu “Sepasang Mata Bola”. Lagu syahdu itu juga menyebutkan kereta dan Jogja –pastilah itu merujuk Stasiun Tugu. Kita simak salah satu petikannya: “Hampir malam di Jogja/ Ketika keretaku tiba/ …Sepasang mata bola/ Gemilang murni mesra/ Telah memandang beta/ Di stasiun Jogja/ Sepasang mata bola/ Seolah olah berkata/ Pergilah pahlawanku….”
Tapi tak ada adegan yang lebih menyedihkan daripada tragedi yang di negeri Belanda terkenal dengan sebutan “De Trein vande Dood” alias “Gerbong Maut”.
Tragedi ini bermula sewaktu Belanda hendak mengevakuasi 100 orang yang dicurigai sebagai bagian dari gerakan nasionalis dari penjara Bondowoso ke penjara Kalisosok di Surabaya pada 23 November 1947. Mereka dimasukkan ke dalam 3 gerbong. Kereta berangkat dari Bondowoso pada pukul 3 dini hari.
Seperti gerbong yang membawa tahanan NAZI ke kamp Auschwitz, gerbong-gerbong itu pun ditutup rapat dan minim ventilasi. Selama perjalanan sepanjang 13 jam, tahanan tak pernah diberi makan dan minum, gerbong tak pernah dibuka dan diperiksa. Sesampainya di Surabaya, begitu gerbong dibuka, ternyata 46 orang tahanan kedapatan tewas karena dehidrasi dan kehabisan oksigen.
Salah satu cerita dalam “Percikan Revolusi + Subuh”-nya Pramoedya pernah dengan baik menggambarkan bagaimana suasana kereta pada masa revolusi yang dipenuhi hiruk-pikuk perempuan bakul beras yang rela dijamah-jamah kondektur agar dapat korting atau malah gratis. Hal yang sama diulang kembali oleh Pramoedya sewaktu menulis novel perang berjudul “Di Tepi Kali Bekasi” dengan protagonis bernama Farid, pemuda penuh semangat nasionalis namun tak cukup punya pengertian yang utuh ihwal apa dan akan berakhir seperti apa dan di mana perjuangan yang dilakukannya.
Chairil sendiri amat sering naik kereta. Jiwa petualangan dan keluyuran Chairil, hanya bisa disalurkan dengan mengendarai kereta api, terutama jika ia hendak pergi ke kota-kota di daerah timur. Salah satu cerita terkenal tentang kelakuan Chairil adalah sewaktu ia naik kereta ke Surabaya untuk –dalam koar-koarnya—berjuang dengan Arek-arek Suroboyo. Ternyata, salah seorang yang mengenal Chairil, menjumpai Chairil sedang asyik masyuk di salah satu gerbong kereta dengan seorang perempuan di sekitar masa digelarnya pertempuran Surabaya yang dimulai pada 20 November.
Kata-kata Chairil sendiri banyak ditulis digerbong-gerbong kereta untuk menyemangati para pemuda revolusioner. Kata-kata itu berbunyi: “Boeng, Ajo, Boeng!” Padahal, kata-kata itu dicomot begitu saja oleh Chairil dari sapaan khas para pelacur di Senen sewaktu menawari pria-pria hidung belang untuk “ngamar”.
Begitulah, kereta menempati posisi yang istimewa dalam sejarah perjuangan pada masa revolusi, periode di mana Chairil sedang benar-benar menikmati masa puncak kreativitas dan elan vitalnya sebagai penyair dan manusia.
Antologi “Kereta Api Penghabisan” mungkin dipersembahkan Chairil untuk mengenang semua peristiwa di atas kereta yang dialaminya, disaksikannya langsung atau sekadar didengarnya. Tengara itu –mungkin—cukup masuk akal karena Chairil dikenal sebagai orang yang tampak begitu terobsesi dengan hidup dalam semua bentuk dan penampakannya. Sajak-sajak Chairil seperti berhulu dari realitas yang terjadi di sekitarnya, rekaman atas pengalaman hidup yang dialami salah satu atau salah lima inderanya.
Jika pun benar begitu, anehnya, sajak “Dalam Kereta” sendiri rasa-rasanya sepenuhnya beraura muram, mencucuk, dan –jika saya membayangkannya—kadang bisa membuat gigil. Kendati semua barisnya diakhiri dengan huruf “a”, yang biasanya lebih memungkinkan munculnya aura yang terang, sajak itu terasa mencekam. Ada suasana pengap di sana, ada aura penantian atas sesuatu yang tak pasti tapi sepertinya sesuatu yang mengerikan atau menyakitkan, dan ada sejumput rasa sakit yang perlahan-lahan makin terasa kuat.
Sajak “Dalam Kereta” dibuka oleh dua baris berbunyi:
Dalam Kereta
Hujan menebal jendela
Dua baris itu langsung menyajikan suasana terkurung –mungkin(?) juga pengap. Chairil menggambarkan suasana yang dikurung oleh dua lapisan sekaligus: sudah berada (1) di “dalam kereta”, ealah…. (2) masih pula keretanya diguyuri hujan yang “menebali jendela”.
Tentu saja tidak semua penumpang yang berada dalam kereta yang ditebali hujan lebat akan merasakan suasana pengap dan muram. Penumpang yang sedang jatuh cinta atau yang baru saja naik pangkat akan tersenyum-senyum dan menikmati rinai hujan di luaran sebagai simfoni indah yang berdentang dalam dada. Hanya saja, baris-baris berikutnya –sehemat saya—lebih menunjukkan aura mencekam ketimbang riang.
Semarang, Solo? Makin dekat saja
Menangkup senja
Menguak purnama
Ya, ya, dua baris berikutnya dari sajak ini menunjukkan bahwa kereta yang dimaksud sedang menuju Semarang dan/atau Solo. Tapi, kenapa di situ Chairil menyebutkan dua kota tujuan sekaligus? Kenapa tidak salah satu saja? Yang mana yang benar? Adakah Chairil sedang menggambarkan kebingungan menentukan tujuan? Atau memang belum tahu tujuan? Tak bisa tidak, suasana ketidakpastian sudah menelisut di situ.
Kendati belum jelas dan pasti kota apa yang dituju, Chairil sepertinya sudah cukup jelas punya tujuan dari perjalanannya yaitu hendak “menangkup senja” dan “menguak purnama”. Mungkin senja akan ditangkup di Semarang sementara purnama akan dikuak di Solo.
Yang jelas, di situ Chairil menunjukkan satu target atau obsesi (“menangkup senja” dan “menguak purnama”). Tapi, target atau kehendak itu rasanya sedikit aneh dalam kosa kata sajak-sajak Chairil. Biasanya, atau lebih banyak, Chairil menguarkan obsesi dan tekad dengan bahasa yang lugas, tegas dan seringkali seperti hentakan dari ujung sebuah orasi yang menggelegar, macam: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”.
Objek dari target atau obsesi atau tekad itu ternyata “senja” dan “purnama”; dua hal abstrak yang seringkali dirujuk untuk menggambarkan suasana hati yang teduh, indah, pendeknya jauh dari sesuatu yang hiruk-pikuk, menggelegar atau tantang-menantang.
Tiga baris terakhir sajak Chairil makin menyempurnakan kemuraman, rasa perih dan mencekam yang sudah disiapkan Chairil sejak baris pertama itu dalam satu pukulan ironi yang menggambarkan kepasrahan untuk dicincang-cincang:
Caya menyayat mulut dan mata
Menjengking kereta. Menjengking jiwa.
Sayatan terus ke dada.
Semarang atau Solo, dua kota yang dibayangkan sebagai tempat untuk “menangkup senja” dan “menguak purnama”, ternyata “sengaja didatangi” justru untuk membiarkan diri, mulut dan mata disayat ca(ha)ya, sayatan yang begitu kuat sampai-sampai mampu menjengkingkan kereta dan jiwa. Di situlah irononya bercokol.
Frase “sengaja didatangi” itu tidak berlebihan karena –cukup jelas—Chairil di situ memang mengajak pembaca untuk mengikuti pengalaman visual dibekap gerbong kereta yang dibekam hujan yang menebali jendela dan juga disayat-sayat oleh cahaya yang mampu menjengkingkan jiwa. Dan Chairil melakukannya dengan perlahan-lahan, sabar dan mengimbuhinya dengan beberapa ketidakpastian kecil (soal kota tujuan).
Ya, perlahan-lahan pembaca diajak merasakan suasana pedih dan perih yang sedetik demi sedetik makin menyayat-nyayat, dari mulai mata… mulut… lantas terus turun menyayati dada.
Ada sejumput kesan masokisme di situ; tentang Chairil yang mengajak pembaca menikmati segala pengalaman pedih dan perih yang menghunjam dengan perlahan namun dengan tingkat kepastian yang --tak bisa diragukan—akan terus merambat hingga dada.
Dan Chairil memercayakan semua lakon (bernada) masokis itu dipanggungkan di atas gerbong-gerbong kereta, bukan truk atau sedan atau kapal laut. Kenapa dengan kereta? Selain soal fakta bahwa Chairil sering bepergian ke kota-kota yang jauh dengan kereta dan arti penting kereta pada zaman itu, adakah alasan lain kenapa Chairil memilih kereta?
Saya tidak tahu pastinya. Tapi, seturut pengalaman saya, kereta memang jauh lebih memungkinkan pengalaman mencekam dan liris itu ditelan dalam dada, lebih dari kapal laut atau pesawat terbang apalagi mobil. Ada sesuatu yang khusus dari kereta –sesuatu yang saya khawatir tak bisa menjelaskannya.
Tapi, jika boleh berbagi pengalaman, saya selalu merasa kereta memiliki ruang yang memungkinkan imajinasi lebih leluasa berkembang. Bentuk kereta, yang memanjang dari satu gerbong ke gerbong lainnya dan masih memungkinkan orang melihat gerbong-gerbong di depan atau di belakang, rasanya sering menghadirkan suasana seperti sedang berada di sebuah lorong yang panjang.
Menariknya, lorong panjang itu selalu mentok di badan lokomotif. Di luar pesawat terbang (yang pada masa Chairil belum populer sebagai koda transportasi umum), nyaris semua kendaraan pada masa itu memungkinkan penumpang menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan. Kita hanya bisa melihat gerbong-gerbong di depan, tapi kita tak akan pernah bisa melihat apa yang sedang menghadang di depan lokomotif.
Bentuk kereta memungkinkan penghayatan terhadap ketidakpastian muncul dalam kadar yang lebih kuat; situasi tak menentu, fana dan hanya memungkinkan kita pasrah pada kewaspadaan masinis, karena penumpang kereta tak bisa mengingatkan masinis jika ada sesuatu yang berbahaya di depan sana.
Dan para penumpang kereta tak pernah bisa untuk bersiap lebih dulu menghadapi bencana, rel yang patah atau jembatan yang rengkah karena penumpang memang tak pernah tahu apa yang terjadi di depan sana.
Tahu-tahu dan tiba-tiba, gerbong yang kita tumpangi anjlok atau bahkan terguling ke kanan, "menjengking kereta, menjengking jiwa", kata Chairil.
Saya jadi ingat penyair Indrian Koto, yang pada satu dini hari, tiba-tiba goyah kakinya begitu mendengar pluit petugas stasiun dan lengking lokomotif tanda kereta sebentar lagi akan beranjak. Di mana lagi jika bukan di Stasiun Tugu!
----------------------
Untuk mengenang 59 kematian Chairil, beberapa teman sekantor saya yang sehari-hari sibuk menggarap Kronik Seabad Kebangkitan Nasional merelakan diri menulis sesuatu tentang Chairil Anwar. Mereka adalah Ridwan Munawwar dan Yusrizal Elga. Seorang lagi adalah Haska, penulis buku “Bob Marley: Rasta Reggae dan Revolusi” yang juga kontributor salah satu terbitan di tempat kantor saya bekerja, “Bataviase Nouvelles”.
Sila diklik link-link di bawah ini untuk membaca catatan-catatan mereka tentang Chairil Anwar:
Chairil Anwar: Pintu-Pintu Pengakuan
Sebuah Ingatan untuk Chairil Anwar
Jejak Chairil Anwar dalam Ingatan seorang Pengigau
Diposting oleh zen di 2:20 PM 8 komentar
Minggu, April 20, 2008
Jendela
-- surat buat Ann
Ann, sore ini tiba-tiba aku memikirkan banyak hal tentang jendela seraya pada saat yang sama aku juga lupa pernahkah kita duduk berdua di gigir jendela dalam waktu yang lama. Saya lupa, Ann. Sungguh. Dan untuk itu, maafkanlah aku.
Aku tak tahu kapan kau membaca catatan ini, sepucuk surat yang ditulis di sebuah kampung kecil di tubir pantai Cihara (Bayah) yang sepi, merayakan hari jadi, sembari menggumamkan beberapa metrum sekar megatruh dalam kepungan resau ombak yang bergemuruh.
Mungkin kau merasa heran, kenapa senja yang sempurna dirayakan dengan menyimak sekar megatruh. Apa boleh buat, Ann, sekar asmaradana sedang tak kena. Aku merasa, sekar asmaradana lebih berpeluang membuatku leka. Aku sedang tak ingin leka, Ann. Sedang tak sudi diguyah lupa.
Megatruh, Ann. Ya, megatruh. Dari kata “pegat”, lantas menjadi “megat”, yang berarti “putus” dan kata “ruh” atau “jiwa” atau “nyawa” atau “atma” dalam tradisi Buddha. Megatruh berarti ajal, Ann. Maut. Situasi di mana nyawa atau ruh “megat”, bisa pula “mingat”.
Aku pernah tergoda membandingkan megatruh dengan requiem, mungkin antara megatruh-nya Yasadipura yang dianggap tabu dilantunkan di sekitar sungai dengan Introitus Requiem-nya Wolfgang Amadeus Mozart yang sering berkumandang pada misa arwah di kapel-kapel gereja.
Tahun lalu, Ann, ya… tahun lalu, aku merayakan hari jadi dengan seminggu penuh memutar-mutar Introitus Requiem, komposisi yang ditulis menjelang Mozart disambangi maut. Tahun ini, saat kau tak lagi bersisian denganku, Ann, aku sangat ingin mendengarkan sekar megatruh dilantunkan. Ya, cukup megatruh-nya saja, sebab jika semua sekar macapat dilantunkan bisa panjang pertunjukan.
Aku tak ingin mengulang apa yang sudah ku tulis pada catatan hari jadi tahun yang silam. Cukup ku katakan: cara terbaik untuk merayakan hari jadi adalah dengan memikirkan kematian, sebab kedatangan hari jadi bukanlah titimangsa perpanjangan yuswa melainkan justru menjadi peristiwa yang meneguhkan makin ausnya kita punya usia.
Heidegger, Ann, filsuf yang pernah kuceritakan saat fragmen pengkhianatan itu terbuka nyaris tanpa jelaga, pernah bernubuah: “Ketika seseorang dilahirkan, ia sudah terlalu tua untuk mati.”
Megatruh, “pegat-e ruh”, terasa makin ngelangut jika disimak dari tingkap jendela. Kubayangkan, malaikat-malaikat maut mengambang lebih dulu di jendela sebelum ia melesat ke dalam dan sekejap kemudian kembali terbang ke swargaloka membawa nyawa yang baru saja direnggutnya dengan perkasa dan tanpa kata-kata sayonara.
“Keringat begitu deras melumuri tangan malaikat, dan aku yang terpingsan-pingsan dekat jendela, memandang wajahmu dalam gaib asmaradana. Tuhan, beri aku ciuman, sebelum nyawa meregang.”
Sajak itu berjudul “Ciuman Terakhir Menjelang Kematian”, ditulis oleh penyair dan kyai bernama Zainal Arifin Thoha. Tahukah kau, Ann, kalau beliau juga mendiang pada satu malam di bawah tingkap jendela rumahnya, setahun silam, persis seperti bunyi sajak yang ditulisnya itu.
Jendela, Ann, bukan pintu. Pintu adalah tempat lalu lalangnya para tamu dan para pejalan yang singgah, sebuah lorong yang terbuka dan nyaris tanpa rahasia. Semua orang pernah melewati pintu, melepaskan sepatu, melihat paras tuan rumah, lalu duduk di sofa di dekat slintru, mungkin sambil memandangi seisi ruang tamu dan mengagumi potret-potret keluarga atau lukisan pemandangan berlatar langit yang begitu biru. Tak ada rahasia di antara dua pilar pintu.
Tapi jendela, Ann, ya… jendela, lebih banyak menyimpan rahasia. Jendela bisa dibaca sebagai memoar kesendirian pemiliknya, yang –mungkin—hari demi hari memandangi jalanan sembari menanti kedatangan tukang pos yang membawa kabar kekasihnya yang sedang merantau nun entah di mana.
Jendela bisa pula dihayati sebagai nubuah bagi jiwa yang ingin bebas dari seorang putri yang dipenjara di sebuah kastil yang megah. Jendela menjadi perantara antara “dunia luar” yang merdeka dengan “dunia dalam” yang penuh krama dan tata.
Di situ jendela memberikan kepedihan dan kesenangan sekaligus. Ia menjadi kepedihan karena jendela menyadarkan seseorang betapa ia sedang ditelan oleh tembok-tembok yang tak berbelas kasih. Ia menjadi kesenangan karena pada saat yang sama jendela akan terus-menerus mengingatkan bahwa dunia luar yang merdeka itu masih ada dan akan terus terbuka bagi siapa saja yang berani menghadapinya.
Jendela memang menyembunyikan rahasia dan peristiwa yang tergelar di kamar pemiliknya.
Tanyakan saja pada Marius Pontmercy, seorang pemuda revolusioner, yang sering menatap jendela kamar Cosette dari plaza yang sepi dalam cerita Victor Hugo yang terkenal itu, “Les Miserables”. Baginya, jendela selalu menawarkan sebuah rahasia: Sedang apa kekasihnya di dalam sana?
Bagaimana dengan jendela di kamarmu, Ann? Kau anggap apa ia? Ataukah kau lebih sering mengabaikannya sendirian di pojok kamarmu, menahan laju angin malam yang membawakan gigil itu?
Ann, kubayangkan kau sedang duduk di jendela kamarmu, menyerahkan dagu mu yang lancip pada dasar jendela, sementara matamu memandang jauh ke muka, entah merenungkan apa, mungkin merenungkan sebuah negeri yang jauh atau mengkhayalkan sebuah perjalanan yang sudah lama kau rancang atau justru sedang memikirkan seorang mahesa yang kau tunggu kepulangannya.
Ya, tak ada tempat yang lebih baik selain jendela untuk merenungkan hal ihwal yang demikian. Jendela adalah penghubung hari ini dengan masa depan yang belum sepenuhnya bisa kita bayangkan.
“Sebuah Jendela menyerahkan kamar ini pada dunia,” tulis Chairil Anwar dalam sajaknya, “Pada Sebuah Kamar”.
Larik sajak itu mengejutkan karena di sana “jendela” dihadirkan sebagai subjek yang aktif, sosok yang punya prakarsa. Saya tidak tahu kenapa di situ “jendela” memilih untuk “menyerahkan kamar ini” pada dunia. Mungkin “jendela” jengah dengan segala macam pengkhianatan yang tergelar tiap malam di sana dan terus-menerus disembunyikan para pelakunya dengan menutup jendela serapat-rapatnya. Aku tak tahu dan tidak semua memang harus ku tahu.
Seperti juga aku tak tahu ada rahasia apa di balik jendela kamarmu, Ann. Mungkin memang lebih baik aku tak tahu. Sebab siapa tahu dengan itu aku justru akan terus memandangi jendelamu dari kejauhan sembari menebak-nebak sedang apa dirimu di dalam sana, seperti Marius Pontmercy memandangi jendela Cosette.
Aku lebih sering berkelana, bepergian membelakangi huma, meninggalkan tingkap jendela. Dalam setiap depa perjalanan yang sedang ku hela, aku banyak melihat jendela. Bagi orang yang sedang mengukur setiap depa perjalanan, jendela serupa godaan untuk istirah, rayuan untuk tetirah, bujukan untuk singgah.
Dan jika godaan, rayuan dan bujukan untuk singgah dan tetirah itu sudah tak tertahankan, pastilah aku akan menuju jendelamu, bukan jendela yang lain, mengetuknya perlahan, sembari mengucapkan kata-kata yang pernah diukir Franz Kafka:
“May I kiss you then? On this miserable paper? I might as well open the window and kiss the night air.”
Ann, kowe pancen ngangeni. Duh....
Diposting oleh zen di 7:17 AM 28 komentar
Mengambang
Sesekali, kau mungkin bisa menjajal pengalaman yang baru saja ku alami. Jika kau ingin kembali ke Jogja atau bepergian ke mana pun, meninggalkan tanah asal, puakmu, pergilah dengan mengendarai kereta api. Selanjutnya, berdirilah di bordes paling belakang. Majulah sedekat mungkin dengan ujung kereta itu. Kau mungkin bisa berdiri persis di tubir kereta.
Biarkan angin menyentuhmu dan mengusutkan rambutmu yang tak begitu panjang itu. Kau boleh membayangkan sedang berdiri di atas geladak kapal, tapi jangan kau bayangkan dirimu seperti Jack Dawson yang sedang memeluk Rose di ujung depan Titanic. Kau tancapkan saja pandanganmu lurus ke depan. Ke arah yang berlawanan dengan arah yang ditempuh kereta yang kau tumpangi.
Lalu cobalah kau fokus. Biarkan retina matamu menangkap berlajur-lajur rel yang seperti tergesa-gesa ditinggalkan kereta. Toh, kita tak pernah tahu, betulkah kereta yang sedang bergerak menjauh? Jangan-jangan, itu hanya ilusi saja? Berada di dimensi seperti ini, biarkan imajinasimu, mungkin juga ilusimu, membayangkan bahwa sebenarnya rel-rel itulah yang bergerak menjauh.
Jika kau kebetulan naik kereta malam, sesekali tengoklah atap-atap dunia, langit-langit malam yang diseraki gemintang, sepasi bulan, dan tebaran mega-mega, mungkin juga arakan awan-awan. Biarkan sensasi yang sama menyapamu: siapa yang sebenarnya bergerak? Bumi ini, di mana kita nangkring manis di dalamnya, ataukah bulan, bintang, mega dan awan-awan itu yang sebenarnya bergerak?
Aku, seperti yang sedang kuceritakan ini, membiarkan diri dikosongkan oleh imajinasi, oleh ilusi, atau apa lah namanya. Aku lupakan pelajaran SD dulu ihwal teori heliosentrisme yang meyakini bumilah yang berputar mengelilingi matahari. Aku lupakan pula semua pengetahuan yang ku punya dan membiakan ilusi dan imajinasi tentang gerak itu mengayun-ayunkan jelujur kesadaran yang belakangan memang terasa letih ini.
10 menit. 20 menit. 30 menit. Satu jam. Dua jam.
Selama itu pulalah aku berdiri mematung di ujung gerbong ini. Membiarkan ilusi pergerakan benda-benda itu melembamkan retina mataku yang mulai terasa pedih. Di titimangsa macam ini, ketika kepalamu mulai terasa pening dan kedua matamu mulai mengabur, tetaplah kau lihat jelujur rel-rel itu. Biarkan saja begitu. Bahkan mungkin sewaktu perutmu mulai terasa mual.
Di titik yang paling kritis, ketika kau sudah merasa sungguh letih, pejamkan lah matamu. Tapi cukup mata kau saja yang terpejam. Biarkan inderamu yang lain tetap terjaga. Hidungmu, telingamu, pori-pori kulitmu, lidahmu. Juga perasaan dan imajinasimu. Biarkan saja batas antara ilusi dan imajinasi itu menghablur, mengabur dan memiuh. Dan sekarang, rasakanlah, di mana sekarang kau sedang berada?
Ketika aku sendiri yang melakukannya, aku merasa sedang berada dalam sebuah lorong panjang yang tak terlalu lebar tapi juga tak terlampau sempit. Semua dindingnya tampak berwarna putih pucat. Dan, aha, aku merasa dinding putih pucat itu begerak sangat cepat, sementara aku hanya berdiri diam. Ya, diam saja.
Aku merasa sedang berdiri mengambang.
Diposting oleh zen di 1:21 AM 9 komentar
Template asal oleh
headsetoptions
diadaptasi ke Blogger oleh
blog and web | dipercantik oleh udin