»

Sapientia

cermin — admin @ 11:26 am

– perihal pentingnya melupakan dalam pembacaan

“Saya berusaha membiarkan diri saya dilahirkan oleh kekuatan dari setiap kehidupan yang hidup: melupakan.”

Pasase itu dikatakan oleh Roland Barthes di depan civitas College de France saat membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar atau Lecon Inaugurale (Inaugural Lecture) pada 1978. Di situ, Barthes tidak hendak mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang sudah ia paparkan dalam karya-karyanya dan tidak juga menguraikan pokok-pokok pikirannya mengenai ilmu semiologi sastra, melainkan justru berbicara perihal “melupakan”.

Menurut Jonathan Culler, Barthes memang bermaksud memperkenalkan pentingnya “melupakan”, perlunya “tak-mempelajari” (un-learning), yang pasrah dan bercumbu pada improvisasi dan modifikasi sehingga melupakan (dan/atau “mengabaikan”) ketentuan-ketentuan atau prosedur-prosedur baku atas pengetahuan, kebudayaan, atau kepercayaan yang sudah mengendap dan dialami oleh semua orang.

(more…)

Jambul

meracau — admin @ 12:42 pm

– jambul dan hal-hal yang belum selesai

1. Fashion berhutang banyak pada dunia satwa. Pasokan kulit buaya, kulit harimau, dll., hanyalah sumbangan kecil satwa pada fashion. Organ tubuh satwa juga terbukti bisa jadi inspirasi bagi fashion. “Jambul khatulistiwa” adalah artefak budaya yang menjelaskan bagaimana dunia fashion juga menggali inspirasi dari dunia unggas. #SaveAyamKalkul

2. Tren masa depan dunia fashion sudah jelas membutuhkan jasa seorang copy-writer yang handal, berwawasan budaya dan berintelijensia tinggi. “Jambul Khatulistiwa” adalah bukti forensik bagaimana sebuah style perlu dinamai dengan jitu, memuat kode-kode budaya, bernuansa edukasi yang tinggi, dan menjunjung tinggi rasa cinta tanah air. Model rambut ke-barat-baratan, seperti “Mohawk”, harus dihindari. Perbanyak nama-nama seperti “Cepak Nusantara”, “Gondrong Jawadwipa”, “Kriwil Singosari”, atau “Kribo Sriwijaya”.

3. Orang kadang dikenang dengan sesuatu yang paling menonjol dari dirinya, kadang yang menonjol itu sepenuhnya fisik. Malinda Dee dikenal karena “jambul di dadanya”. Ronaldo dan Luis Suarez dikenal karena “jambul di giginya”. Nah, biduan-yang-tak-boleh-disebut-namanya itu sadar bahwa satu jambul saja sudah bisa bikin orang terkenal, apalagi kalau dua jambul? Maka, beliau pun menambah unsur jambul di tubuhnya. Hasilnya? Ruarrrrr biasa! Seperti lagu lama yang dinyanyikan oleh biduan-yang-tak-boleh-disebut-namanya itu, “Aku tak biaaaasssaaaaa….”

Ya, beliau memang tak biasa, sungguh-sungguh tak biasa.

Guru

cermin — admin @ 12:27 pm

– guru yang melahirkan pemimpin

Tiap berpikir ihwal kualifikasi seorang guru, kita sebenarnya sedang berharap seperti itulah kualifikasi minimal yang semestinya dimiliki seorang pemimpin: punya standar kognisi (intelektual) dan afeksi (perilaku dan sikap) di atas rata-rata.

Guru secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, gur-u’, yang berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan, dan orang yang sangat dihormati karena kewaskitaannya. Dalam khazanah Jawa Kuno, dikenal sejumlah istilah yang menempel pada kata ’guru’: guru desa (kamitua desa yang mumpuni dalam dunia spiritual), guru hyan (guru rohani), guru loka (pejabat agama di istana), dan guru pitara (mendiang nenek moyang yang patut dimuliakan karena kewaskitaannya).

Kata ’gur-u’ kemudian bertemu dengan kata ’as’, sebuah kata yang dalam bahasa Sanskerta berarti mengajar. Saat itulah kata guru juga bermakna ’mengajar’. Itu juga dengan prasyarat: guru tetap harus memiliki sikap mulia seperti yang dibebankan oleh kata ’gur-u’.

Seorang pengajar bisa disebut baik jika murid-muridnya berhasil mendapat nilai bagus di kelas. Namun, seorang guru yang baik selalu dituntut mampu melahirkan manusia-manusia yang baik, bukan sekadar murid yang pintar. Guru dituntut tak hanya mampu “menggarap” kognisi (rasio-logika), tetapi juga afeksi (rasa, cipta, karsa, dan sikap).

(more…)

Sisifus

cermin — admin @ 2:53 am

– setelah kekalahan….

23.25. Di sebuah kafe, empat kawan duduk melingkar. Saya datang paling akhir. Sambil menahan capek, saya bilang pada Pangeran Siahaan: “Anjing, udah kaya sisifus aja nih!”

Pertandingan baru berakhir satu jam lalu. Tapi kekalahan malam itu seperti sudah berlangsung lama, sudah berkali-kali, dan sialnya: terus berulang. Tiga kali saya menyaksikannya. 29 Desember 2002, di tempat yang sama, Firmansyah dan Sugiyantoro gagal. 29 Desember 2010, di tempat yang sama, Firman Utina gagal. 21 November 2011, di tempat yang sama, Gunawan dan Ferdinand Sinaga juga gagal.

Saya tahu, sangat tahu, prestasi sepak bola tak mungkin datang tanpa pembinaan yang berjenjang dan kompetisi yang bersih. Tapi, saat kesebelasan kesayangan sudah sampai di final, siapa yang tak tergoda untuk berharap? 20 tahun, tuan-tuan… 20 tahun bukan waktu yang sebentar, waktu yang sangat lama. Sepanjang umur saya menginjakkan kaki di stadion, tak pernah saya melihat Indonesia juara.

Tapi, mau bagaimana lagi? Ternyata kalah lagi, tumbang lagi, kandas lagi. Dongeng sepak bola Indonesia masih mengulang plot yang sama, kisah yang lama, cerita yang lama: kekalahan, kekalahan dan kekalahan.

(more…)

Kepahlawanan

meracau — admin @ 4:14 pm

– catatan tambahan untuk provocactive

Saya berkesempatan membicarakan beberapa nama pahlawan nasional dalam acara Provocative yang (akan) tayang pada 10 November ini di Metro TV.

Beberapa nama saya singgung untuk menunjukkan betapa diskursus kepahlawanan nasional lebih pas dibaca sebagai pilihan politik ketimbang sebagai suatu kajian sejarah. Selain itu, saya juga meletakkan beberapa nama sebagai ilustrasi bagaimana publik membaca, mempersoalkan dan menempatkan ulang sosok-sosok pahlawan nasional.

Terciptanya ruang diskursif terkait narasi kepahlawanan nasional ini makin mengemuka dan terus terbuka setelah 1998. Reformasi, sedikit banyak, memungkinkan narasi-narasi resmi negara untuk didiskusikan dan dipersoalkan sampai batas-batas terjauh yang dimungkinkan.

Tuanku Imam Bonjol, misalnya. Nama itu saya singgung untuk menunjukkan bagaimana publik makin terbuka membicarakan dan mempersoalkan kepahlawanan seseorang. Imam Bonjol, saya kira, bisa dijadikan model bagaimana gugatan terhadap narasi resmi kepahlawanan nasional itu bisa berbentuk catatan-catatan yang bukan hanya kritis, tapi juga keras dan tajam.

(more…)

158

meracau — admin @ 7:42 am

– pembiakan para pahlawan nasional

Bangsa yang besar, sering kita dengar, adalah bangsa yang sanggup menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Soalnya adalah: butuh berapa pahlawan nasional lagi agar Indonesia bisa sungguh-sungguh menjadi bangsa yang besar?

Per 8 November kemarin, jumlah pahlawan nasional Indonesia bertambah 7 nama lagi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin menahbiskan IJ Kasimo, Sjafruddin Prawiranegara, Susuhanan Paku Buwana X, Buya Hamka, Idham Chalid, I Gusti Ketut Pudja, dan Ki Mangunsarkoro sebagai pahlawan nasional yang terbaru.

Ditetapkannya tujuh pahlawan nasional yang baru bukan hanya menggenapkan jumlah daftar pahlawan nasional menjadi 158 orang, tapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu (jika bukan satu-satunya) negara dengan jumlah pahlawan nasional terbanyak. Jumlah itu hampir bisa dipastikan akan terus bertambah dan bertambah lagi di tahun-tahun mendatang karena tampaknya sudah menjadi kelaziman menganugerahkan gelar pahlawan nasional yang baru setiap bulan November.

Tidakkah itu kelewat banyak? Atau, tidakkah jumlah yang banyak dan akan terus berbiak itu malah bisa menyulitkan kita memahami dan menghayati hidup dan karya para pahlawan itu?

(more…)

Sekehaji

cermin — admin @ 10:03 pm

Rumah ini masih kosong dari perabotan. Kamar paling besar di lantai atas dan ruang utama (ruangan terbesar di rumah ini) masih kosong melompong dari perabot apa pun.

Saya tak berpikir untuk memasukkan banyak perabot tambahan, apalagi perabotan berukuran besar. Apa yang tersedia sekarang rasanya sudah cukup. Mungkin saya akan membeli karpet tambahan untuk ruang utama, sekadar berjaga jika suatu saat ada tamu yang tak mungkin saya bawa ke ruang belakang.

Ya, ruang belakang, tempat di mana kami lebih sering menghela aktivitas ketimbang di ruangan-ruangan lain (kecuali dapur barangkali). Saya perlu menceritakan sedikit lebih rinci mengenai ruangan belakang ini.

Ruangan belakang ini berukuran sekitar 3×6 meter dan terbujur tanpa sekat. Saya membaginya sedemikian rupa menjadi 3 bagian — sebuah pembagian yang arbitrer dan bisa dibongkar-pasang.

(more…)

7/11

meracau — admin @ 10:03 pm

– hari paling galau dalam sejarah

Setelah serangan kesunyian yang meluluhlantakkan perasaan seluruh penduduk kota mereda pada hari ke-7 di bulan 11, Kolonel Girindra Hinura memutuskan membangun sebuah toserba di pojok alun-alun sebelah utara. Untuk mengenang peristiwa menakjubkan itu, Sang Kolonel menamai toserba miliknya dengan nama “7/11″.

Sang Kolonel membangun 7/11 sebagai antisipasi kemungkinan datangnya kembali serangan kesunyian yang membuat aktivitas kota Harikukun menjadi lumpuh. Ia ingin 7/11 menjadi alternatif bagi penduduk Harikukun untuk berkumpul kapan pun mereka menginginkannya, bertemu dengan siapa pun yang mereka inginkan, agar satu sama lain bisa saling bercakap-cakap dan saling menawarkan kesunyian; dan itulah sebabnya ia merencanakan toserba miliknya buka selama 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu, tak kenal tutup, tak ada prei.

Sebagai seorang veteran revolusi 1998 yang kenyang makan asam garam pedihnya perjuangan dan peperangan, ia bahagia bukan kepalang menyaksikan penduduk Harikukun berduyun-duyun mengunjungi acara pembukaan toserba 7/11, tepat saat peringatan setahun berakhirnya serangan kesunyian yang meluluhlantakkan perasaan segenap penduduk kota.

Yang tak diketahui oleh Sang Kolonel: sebenarnya tak ada yang merayakan setahun berakhirnya serangan kesunyian itu, karena tak ada yang lagi ingat, kecuali Sang Kolonel sendiri, hanya ia sendiri.

(more…)

Tai

meracau — Tags: , — admin @ 12:52 am

– mengenang (sedikit) elias canetti, 25 juli 1905 – 25 juli 2011

Elias Canetti, dalam bab “Die Eingeweide der Macht” yang terdapat dalam buku terkenalnya yang berjudul Masse und Macht, sempat menjelajahi arti tai untuk lebih memahami lobang-lobang dalam pemahaman kita ihwal sisi kelam manusia dan kemanusiaan.

Baginya, tai menjadi alegori dari apa yang telah kita bunuh. “Tai adalah jumlah lumatan dari seluruh indikasi-indikasi yang melawan kita,” tulis Canetti.

Saya kutipkan inti pandangan Canetti tentang tai seturut yang diikhtisarkan oleh Dagmar Lorenz dalam buku A Companion to the Works of Elias Canetti [hal. 307-308]:

“Bagi Canetti, segala tentang tai itu penting karena mewakili suatu kenyataan yang ingin kita abaikan. Baginya, itu semua mengindikasikan kesalahan kita. Tinja, bagi Canetti, memperlihatkan kekejaman manusia, membuktikan bahwa kita adalah pembunuh… Tai juga menjadi saksi langsung dari kekuatan dalam kehidupan kita.”

(more…)

Topi

meracau — admin @ 12:17 am

– perihal penjahat yang tidak keren tapi merasa dirinya keren

Begitu rekaman wawancara itu selesai ditayangkan televisi, Borges teringat suatu masa ketika ia menyaksikan sebuah film koboi.

Melalui televisi hitam putih milik tetangganya yang kaya, Borges tak pernah melewatkan serial film koboi yang selalu tayang setiap Minggu siang. Ia tak tertarik dengan kuda-kuda gagah atau kemahiran menggunakan tali lasso atau akurasi tembakan yang mengerikan. Yang dikagumi Borges dari koboi-koboi yang dilihatnya di televisi, dan karenanya selalu ia tunggu-tunggu, adalah ketika sang koboi menarik ujung topi di kepalanya tiap kali berhasil melakukan sesuatu dengan benar.

Tak ada yang lebih mempesona Borges selain gaya seorang koboi menyentuh ujung kanan topinya, menariknya sedikit ke bawah, yang diikuti oleh kedipan mata yang wajar dan tak berlebihan, disertai senyum tipis yang meyakinkan tapi tidak angkuh.

Borges tak akan pernah lupa adegan dalam sebuah film koboi yang menggambarkan seorang perampok yang menjebol brankas sebuah bank setelah sebelumnya menembak Sheriff. Di hadapan Sheriff yang terkapar meregang nyawa, perampok itu memungut topinya yang terjatuh, meletakkan topi itu di kepalanya, lalu sedikit menurunkan ujung kanan topinya sembari berkata: Nikmatilah hidupmu, lakukan pekerjaanmu, lalu kenakanlah topimu.*

(more…)

Next Page »
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity