Sunday 7 Feb 2010 by admin |
4 Comments
Filed under:
biografi
– anak bajang tak pernah pergi

Aney, Aney, you, my unborn child
Sorry, sorry, I can’t sing a brighter lullaby.
Itu petikan lirik lagu berjudul “Aney, Unborn Child“.
Adik perempuan saya tak tahu lagu itu dan sepertinya juga tak pernah mendengarnya. Tapi, saya percaya –sangat percaya, bahkan– adik saya sangat bisa memahami lirik lagu di atas dengan segenap sedu sedannya.
Dik, tidak pernah saya bersedih selarut ini untukmu, juga untuk anak bajang-mu.
Atau, mungkin, justru saya harus bahagia untuk anak bajang-mu itu? Bukankah ada yang bilang nasib terbaik adalah tidak dilahirkan? Seperti kata-kata seseorang dalam hidup saya: “The unborn children. Absolute freedom. Perfect good men ever. Instead the dead.”
Anak bajang, anak bajang. Ooo… anak bajang!
Friday 5 Feb 2010 by admin |
1 Comment
Filed under:
flaneur
– peturasan dan peradaban

Bashori melangkah dengan santai menuju salah satu kamar mandi yang tersedia di toilet umum milik warga Kampung Ngemplak Rejo, Situbondo. Ia tak menaikkan sarungnya, tak khawatir jika sarung itu bisa terperciki najis yang membuatnya tak suci lagi untuk digunakan shalat.
“Ndok kene mesti resik, Mas,” ungkapnya penuh keyakinan.
Sebuah toilet adalah sebuah dunia. Dari sana — barangkali– bisa terpantul sejumlah pokok soal yang lebih besar: ihwal perilaku, akses, juga perihal kesehatan yang mensyaratkan sistem sanitasi yang baik.
Sebuah jamban adalah sebuah dunia. Simaklah bagaimana sebuah artikel dari tahun 1927 yang muncul di koran “Soeloeh Indonesia” mengomentari soal toilet dan manusia Indonesia:
Selengkapnya »
Wednesday 3 Feb 2010 by admin |
2 Comments
Filed under:
biografi
– akhir pekan dengan toga #2

Martha Graham mengantarkan perempuan ini menjadi seorang sejarawan dengan spesialisasi sejarah seni, khususnya seni pertunjukan.
Martha Graham, penari sekaligus koreografer Amerika, singgah di Jawa pertama kali pada 1925. Ketika itu ia datang bersama rombongan yang dipimpin oleh Ruth St. Dennis. Pada 1955, Martha sempat mementaskan pertunjukannya di Jakarta. Ia melakukannya lagi pada 1975, kali ini ia mementaskan karyanya di Taman Ismail Marzuki.
Ia punya pengaruh kuat dalam studi tari di Amerika. Ciri khas koregrafinya adalah drama tari. Ia sangat sering menampilkan karakter perempuan yang heroik, seringkali dengan memungut kisah-kisah mitologis, seperti kisah “Clytemnestra”.
Selengkapnya »
Monday 1 Feb 2010 by admin |
6 Comments
Filed under:
biografi
– akhir pekan dengan toga #1

Pekan lalu, saat berkeliaran di daerah pemukiman padat di Bali, saya bertemu dengan Pak Huda: lelaki berusia 45 tahun, hanya sekolah sampai kelas 5 SD, tapi brilian dalam pengetahuan tentang teknik sipil, arsitektur, paham bangunan yang ramah lingkungan dan tidak, juga mengerti sejarah God Bless dan Deep Purple.
Saya ceritakan soal itu melalui beberapa sms pada dia soal Pak Huda ini.
Sebelum melakukan perjalanan, saya tahu ia sedang mencoba menamatkan “The Unbearable Lightness of Being“, versi Inggris novel brilian karya Milan Kundera yang diambil dari koleksi abangnya yang sedang studi di Cyprus.
Sependugaan saya, saat beberapa sms ihwal Pak Huda itu dikirimkan padanya, ia masih berjuang untuk menamatkan novel itu. Dugaan saya ternyata benar. Ia membalas sms saya dengan satu kutipan utuh yang diambil dari halaman 55 novel itu, halaman yang memang sedang dibaca persis saat sms-sms itu terkirim. Bunyinya begini:
Selengkapnya »
Sunday 31 Jan 2010 by admin |
4 Comments
Filed under:
meracau
– pembangkangan benda-benda #10
Tiap kali berpikir, apa yang saya pikir saya memang menginginkannya malah menyelinap pergi.
Seperti barusan terjadi. Saya, dalam lapar yang nyaris akut, tiba-tiba saja teringat dengan nasi rawon. Sepertinya lezat jika pada dini hari yang dingin dan lapar bisa menyantap nasi rawon dan kuahnya yang khas itu.
Sayangnya, belum lama saya memikirkan dan menginginkan nasi rawon, apa yang saya pikir saya menginginkannya itu malah kabur. Saya cuma bisa menangkap ruap bau kuahnya yang sedap dan membikin lambung makin terasa perih saja.
Biasanya saya akan mengejar dia sebisanya. Seperti barusan juga terjadi: saya mengejarnya dengan tergopoh-gopoh. Beberapa saat sebelum mencapai tikungan, saya berhasil menyalipnya. Tanpa basa-basi, saya langsung berdiri menghadangnya. Saya tak sadar, ada tetesan kecil air liur meleleh dari mulut saya.
Selengkapnya »
Friday 29 Jan 2010 by admin |
3 Comments
Filed under:
biografi
– lelaki tua dan toilet

Perkenalkan: Pak Junaedi!
Saya tak tahu banyak sejarah hidupnya. Tapi beginilah saya menemukannya: Di sebuah toilet umum milik warga, yang dibangun dengan mengadopsi konsep Sanimas [sanitasi berbasis masyarakat], seorang lelaki ditunjuk sebagai operator sekaligus penjaga toilet umum ini.
Ketua RT/RW 01/01, Kel. Janti, Sidoarjo [tak jauh dari Pabrik Paku yang berada di seberang terminal Bungurasih] menunjuknya sebagai operator. Pak Sumardi, Pak Ketua RT itu, percaya pada integritasnya.
“Daripada orang lain yang ga jelas, lebih baik dia saja yang jaga di sini,” kata Pak Sumardi.
Selengkapnya »
Wednesday 27 Jan 2010 by admin |
3 Comments
Filed under:
Blogroll
– perihal seorang teman…

Dwi Rahariyoso, biasa dipanggil Gembos: seorang teman baik, lelaki berperasaan halus dengan segudang cerita melankolik dalam hidupnya, seorang penyair yang tak percaya kalau dirinya bisa dan mampu menjadi penyair!
Ia ambil keputusan penting: merantau ke Sorong, Papua, sendirian, untuk waktu yang entah… setidaknya dua tahun.
Saya bertemu terakhir kalinya sehari sebelum ia berangkat ke Sorong. Saya sedang melakukan perjalanan dua pekan ke Timur, dan kami berjumpa di Mojokerto. Aku mengajaknya berkeliling ke beberapa tempat di Mojokerto, salah satunya: Trowulan, pusat situs arkeologi peninggalan kerajaan Majapahit. Itu kali pertama ia mengunjungi Trowuan.
Gembos sempat bilang: “Sebelum saya meninggalkan Jawa, untuk pertama kalinya saya datang ke Trowulan, tilas dari sisa-sisa kejayaan ‘Jawa’. Anggap saja ini sebagai pamit yang baik pada Jawa. Ini mungkin cara pamitan terbaik yang bisa saya lakukan.”
Selengkapnya »
Wednesday 27 Jan 2010 by admin |
2 Comments
Filed under:
meracau
– pembangkangan benda-benda #9
Seorang dari kota bermasalah dengan sinyal. Segala yang ia kirimkan tak pernah sampai, terputus di tengah jalan, barangkali dicegat oleh perampok yang tak tahu malu, atau begal yang sedang patah hati.
Kemungkinan yang terakhir itu tampaknya cukup masuk akal, sebab orang dari kota itu mengaku ia juga mengirimkan sejumlah pesan mesra kepada kekasihnya di sebuah kota yang terletak di pinggir laut dengan dua gerbang tinggi di dermaga pelabuhannya.
Barangkali perampok itu adalah bromocorah yang patah hati ditinggal pergi kekasihnya, sehingga ia saban hari hanya bekerja mencegat pesan-pesan yang berseliweran di udara. Barangkali ia bermimpi salah satu pesan yang berhasil dicegatnya adalah pesan yang dikirim perempuan yang dicintainya.
Seorang dari kota yang bermasalah dengan sinyal itu sudah sedari pagi tadi mengirimkan sejumlah pesan, sebagian penting dan sebagiannya tidak terlalu. Tapi sinyal sepertinya mangkir dari tugasnya atau –seperti yang tadi sempat diduga—pesan yang dibawa sinyal itu dicegat oleh entah siapa pun orangnya atau apa pun itu namanya.
Selengkapnya »
Tuesday 19 Jan 2010 by admin |
3 Comments
Filed under:
meracau
– pembangkangan benda-benda #8
Di tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas, ada satu tempat sampah yang ajaibnya terlihat sangat bersih; sebuah kebersihan yang bahkan mengalahkan beranda-beranda rumah singgah, tempat para pinokio belang duduk-duduk sembari menduduk-duduki para pelacur yang tak pernah tahu apa bedanya duduk dan menduduki.
Orang-orang yang sering datang ke tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu kemungkinan semuanya tahu pasal apa yang membikin tempat sampah itu sangat bersih, terlalu bersih bahkan. Orang-orang yang baru datang ke tempat prositusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu kemungkinan akan menyangka betapa bersihnya tong sampah itu sebagai penanda betapa kebersihan teramat diperhatikan oleh orang-orang yang sering berkunjung ke situ.
Tentu saja dia salah. Bagaimana kita hendak bicara kebersihan di tempat yang bersih dan tidaknya sebuah benda tak bisa dideteksi oleh mesin pemburu paling canggih sekali pun? Sebab, di pojok-pojok yang lain, tempat-tempat sampah lainnya tetap tampil seperti biasanya: kotor, atau tidak terlalu bersih, kumuh, juga bau.
Selengkapnya »
Sunday 17 Jan 2010 by admin |
5 Comments
Filed under:
meracau
– pembangkangan benda-benda #7
Pernikahan yang semestinya khusyuk dan syahdu sontak menjadi sedikit ricuh, atau lebih tepat jadi agak berantakan, gara-gara dua kamera yang dibawa dua juru foto mendadak ngambek tak mau bekerja: mereka ingin dinikahkan lebih dulu, setelah itu barulah dua kamera berlainan jenis itu mau bekerja mengabadikan momen sakral pernikahan yang sudah direncanakan sejak lama itu.
Sebenarnya bisa saja akad nikah yang ditunggu dua mempelai itu dimulai tanpa keikutsertaan dua kamera berlainan jenis yang mendadak ngambek untuk sebuah alasan yang terlalu surealis itu. Tapi, di zaman jejaring sosial mengisi 36 jam waktu hidup manusia, apalah artinya momen genting nan sakral serupa akad pernikahan dilewatkan tanpa keabadian yang hanya bisa dilakukan oleh kamera? Tak ada yang mau pernikahannya dianggap hoax, bukan?
Tapi di situlah soalnya. Penghulu sebenarnya mau-mau saja menikahkah dua kamera berlainan jenis itu. Tapi dalam setiap kisah cinta, selalu saja ada aral yang melintang dan jurang yang menganga, bukan?
Dua kamera itu, masing-masing bernama Nokin dan Conan, sukar bisa dinikahkan karena alasan yang sebenarnya tak kalah surealisnya: keduanya, dua kamera yang berlainan jenis itu, ternyata menganut agama yang berbeda. Dan di negeri ini, itu soal yang maha-genting!
Selengkapnya »