Ta(wa)rawih

– perihal iman tanpa senyum

Kami semua menyukai Do’er. Semua orang tahu ia punya perangai yang cerah. Bandel dan jahil, memang. Tapi, semua juga tahu, ia pintar dan cerdik, juga pandai mencuri perhatian orang. Mukanya bulat, pipinya penuh seperti donat yang masih hangat, matanya sedikit sipit, dengan rambut yang ikal. Oya, ia juga lihai menggocek bola. Ya ya, sejak kedatangan Do’er, kami yang biasanya meninggalkan begitu saja sepakbola selama Ramadhan tiba-tiba disadarkan olehnya bahwa sepakbola menjelang buka puasa tidak akan membuat kami kehabisan tenaga dan mati kehausan.

Ia cucu Haji Sawendo, juragan tebu dan pemilik musholla di dekat rumahku. Sepanjang ramadhan ini, Do’er berencana akan tinggal di kampung kami. Ayahnya Do’er, artinya anak Haji Sawendo, bernama Amin Suganda, baru akan datang sehari menjelang lebaran. Aku pernah mendengar hubungan yang ganjil antara Haji Sawendo dan Wa Amin, begitu kami biasa memanggil ayah Do’er. Kabarnyna, begitulah yang lamat-lamat pernah kudengar, anak dan ayah itu sudah tak akur sejak tahun 60-an.

Do’er mendatangkan gema kegembiraan yang baru di antara kami. Ia selalu punya cerita-cerita lucu yang tak ada habisnya. Ia juga tak pelit bercerita tentang seperti apa kehidupan di Jakarta, bagaimana teman-teman sekolahnya, bagaimana sekolah di sana. Dan, ini yang penting, Do’er mengaku sudah punya pacar!

Itu sungguh luar biasa bagiku dan teman-temanku. Kabar bahwa Do’er sudah punya pacar terasa seperti sebuah cerita dongeng yang fantastis bagi anak-anak kampung macam kami. Bayangkan, bocah 8 tahun sudah punya pacar dan sudah pula mencium pacarnya itu. Ya, ya… cerita Do’er yang mengaku pernah menciumnya membuat cerita itu menjadi kian fantastis dan sureal bagi kami.

Selengkapnya »

Ber(s)isik?

– A monk should not laugh. Laughter makes him looks like a monkey*

Seorang desainer (kita sebut saja: “desainer kita”) yang berumah dekat mesjid selalu gagal menyelesaikan pekerjaannya tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir.

Desainer kita ini sejenis mahluk yang hanya bisa bekerja pada malam hari. Siang hari, biasanya, desainer kita ini hanya bermain-main dengan anak-anaknya atau jika tidak pergi memancing ke sungai yang agak jauh tapi sebenarnya tidak jauh-jauh amat.

Maka, tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir, desainer kita yang mukanya mirip singa tanpa misai itu tak pernah bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bukan apa-apa, tiap kali ia mulai bekerja, orang-orang memenuhi telinganya dengan suara do’a yang kian mendekati pagi akan terdengar kian keras dan tak beraturan.

Dia senang jika langit tiba-tiba memuntahkan hujan yang deras. Suara deras hujan yang ditingkahi guntur yang menggelegar seringkali menyelamatkan telinganya dari suara-suara yang kian hari kian terasa acak di telinganya. Sayangnya, itu pun tak selalu berhasil. Selain karena hujan kadangkala berlangsung terlalu singkat, pengeras suara selalu datang tiap 10 menit dengan berisiknya yang tak tertahankan: “Ibu ibu yang sedang menyiapkan sahur, waktu sudah menunjukkan pukul…..”

Selengkapnya »

Kursi

– sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat

Entah sudah berapa perempuan yang telah dikencaninya, tapi tak satu pun dari mereka diijinkan oleh Ireng untuk duduk di depannya tiap kali sedang berkencan di sebuah kafe atau makan di sebuah restoran. Jika mejanya cukup besar, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sebelahnya. Jika mejanya terlalu kecil untuk duduk bersebelahan, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sisi kanan atau di kiri, pokoknya tidak di depannya. Jika Ireng duduk di sebelah barat, teman kencannya akan diposisikan untuk duduk di sisi utara atau selatan, bukan di sisi timur.

Selera yang aneh itu sedikit merepotkan. Setidaknya, Ireng harus selalu berusaha datang lebih dulu untuk meminta pelayan cafe atau restoran untuk menata kursi sedemikian rupa agar pada saatnya nanti ia tidak duduk berhadapan muka dengan muka. Kendati aneh dan tak biasa, kebiasaan Ireng itu tak pernah betul-betul menyulitkannya, hanya sedikit merepotkan saja.

Bagi Ireng, antara “merepotkan” dan “menyulitkan” itu berbeda, itu seperti “membuang abu rokok pada asbak yang tersedia di meja” dengan “buang air di sebuah mesjid yang tak menyediakan kloset”.

Selengkapnya »

Involusi?

– tentang semut yang terjungkal jatuh tanpa suara

Dari ranting pohon jambu yang terjulur menyentuh genting rumah, semut-semut hitam bergerak dan berarakan berpindah tempat: mula-mula dari ranting, lalu pindah ke genting, lantas merayap menyusuri tembok dan akhirnya –dengan meyakinkan—berhasil menembus ke dalam rumah melalui lubang angin di atas pintu.

Semut-semut itu sesungguhnya tidak mengganggu, tidak juga bikin kotor. Hanya saja, rute perarakan mereka memang sama sekali tak sedap dipandang. Setelah melewati lubang angin di atas pintu, mereka membangun jalur lebih ke bawah, melintasi dinding ruang tamu, lalu tiba di ruang keluarga dengan melintas di dinding tepat di atas televisi. Tiap kali melihat televisi, perarakan semut itu seringkali –mau tak mau—terlihat juga oleh mata. Dan, terus terang saja, itu mengganggu.

Seseorang lantas membeli sejenis kapur khusus yang tiap kali digoreskan di dinding atau lantai akan membikin semut-semut itu mustahil bisa melewatinya. Begitulah: perarakan semut itu berhenti. Tindakan selanjutnya: ranting yang terjulur ke genting pun dipangkas.

Selengkapnya »

Requiem

– usai menonton film “grave of the fireflies” karya taro hyugaji

grave-of-the-firefliesBeberapa saat setelah selesai menyunting berkas lagu “Introitus: Requiem”-nya Mozart dan memasangnya sebagai nada panggil di ponsel, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sarmad, lalu: ia terkena serangan jantung, dan mati.

Ibunya membanting ponsel itu dan berkata dengan nada sangat geram: “Komposer sialan!”

Ponsel itu pun pecah berantakan di lantai. Para pelayat yang hadir di sana hanya bisa terdiam, tapi mata mereka melirik keypad ponsel itu dan tiba-tiba saja mereka melihat abjad-abjad di sana telah berubah menjadi sederet notasi balok yang tak bisa mereka baca.

Sementara ibu mendiang Sarmad masih belum reda kegeramannya dan dengan sekuat tenaga menyepak pecahan-pecahan itu dengan histeris ke berbagai arah. Di mata para pelayat, notasi-notasi balok itu pun ikut berhamburan, lalu beterbangan, lalu memancarkan cahaya seperti kunang-kunang, dan lantas berbalik arah menuju jenazah Sarmad yang terbujur di tengah ruang tamu.

Jenazah itu kini bermandikan cahaya di sekujur tubuhnya, berbinar-binar dan berpendaran.

Selengkapnya »

Patah(in)!

– catatan usai nonton Liga Kompas-Gramedia U-14

Tak perlu bertele-tele: sepakbola Indonesia memang lebih suka yang serba instan, tak begitu peduli dengan pembinaan, melulu bicara prestasi – seakan-akan prestasi tak ubahnya hujan yang bisa tercurah begitu saja dari atas langit sana. Lalu, apa jadinya jika kompetisi yunior atau kelompok umur yang sedianya dibangun untuk pembinaan pun ternyata lebih peduli dengan hasil dan prestasi?

Terbetik kabar kalau Rigan Agachi, pemain berdarah Indonesia yang sempat direkrut oleh PSV Eindhoven, terpaksa dibuang oleh PSV karena skandal pencurian umur. Jika benar, itu tentu mengherankan. Anda hanya perlu memanfaatkan mesin pencari untuk menemukan kasus pencurian umur dalam kompetisi atau turnamen sepakbola kelompok yunior di Indonesia –sampai sekarang—masih saja direcoki oleh kasus pencurian umur. Ya, sampai sekarang.

Itu baru dari aspek yang paling kelihatan. Bagaimana dengan mental para pengelola SSB atau para orang tua pemain yunior? Sama saja, setidaknya seperti yang saya lihat dan saksikan sendiri pada hari Minggu kemarin di Lapangan AS-IOP, Senayan, dalam Liga Kompas-Gramedia U-14.

Selengkapnya »

Manyar

– seusai mimpi ngetapel burung manyar

Remaja 17 tahun itu tak segera mengganti seragam sekolahnya dengan satu set kostum sepakbola yang tersimpan rapi di tas ranselnya. Di salah satu sudut stadion kecil, di sebuah kota kecil, remaja itu hanya memandangi beberapa kawannya yang sudah menggelar pemanasan di sentel-ban. Ia tak juga beranjak kendati pelatihnya, dari arah lapangan, memanggil dengan meniupkan pluit sekencang-kencangnya.

Dia lantas ngeloyor pergi, beranjak ke luar stadion, dan duduk di bawah patung raksasa seorang tokoh Pandawa. Di salah satu kaki patung itulah ia melanjutkan membaca sebuah buku yang dipinjamnya beberapa dari perpustakaan daerah di kotanya. Sudah dua hari ia tak melepaskan diri dari buku pinjamannya itu.

Ini hari ketiga ia membacanya. Dan akhir itu sudah makin dekat. Ia membaca dengan keingintahuan yang tak sabar. Setengah jam sebelum kawan-kawan main bolanya bubar dari lapangan, ia telah lebih dulu menamatkan bacaannya.

Ada rasa sedih, sedikit. Tapi ada rasa bungah, sedikit lebih banyak.

Selengkapnya »

Printer [2]

– sebuah versi lain dari cerita lama

Printer ini sudah lama mengabdi kepadaku dengan “sepenuh komponennya”. Ya, “sepenuh komponennya”, karena akan sukar menyebut “sepenuh hatinya”. Siapa memangnya yang bisa bilang kalau printer itu punya hati?

Kecuali hari ini, tepatnya siang ini, persis saat deadline betul-betul nyaris mengerkah batang leherku. Saat itu, para juragan sudah berdiri di balik pintu, ada yang menenteng pistol yang sudah terkokang, ada juga yang mengasah belati tajam dengan gigi depannya yang terbuat dari emas 19 karat, mereka semua menunggu kelarnya pekerjaanku. Keringat dingin mengucuri badanku, membasahi bajuku. Lalu, hal yang tak diinginkan oleh siapa pun di kantor ini pun terjadilah: tiba-tiba saja, ia - printerku itu– tak mau bekerja. Macet. Ngadat. Tak sehelai kertas pun yang keluar dari tubuhnya yang berwarna biru dan putih serta agak tambun ke samping itu.

Biasanya, beberapa saat usai perintah mencetak ditekan, akan menguar suara dengung, yang jika itu keluar dari mulut manusia mungkin akan kusebut sengau. Lalu, setelah dengung yang tak panjang itu, terngiang suara gesekan-gesekan tipis tapi berirama sedikit lebih panjang. Diakhiri dengan suara sedikit teredam, kertas tercetak yang ditunggu-tunggu tak segera keluar. Apa mungkin kertas-kertas yang sedang kutunggu itu enggan dilumuri tinta yang mungkin beracun?

Aku tak tahu apa sebabnya. Dingin keringat makin kencang mengucur, para juragan di balik pintu mulai berdehem-dehem, suara deheman yang terdengar lebih menakutkan daripada suara batuk pengidap TBC.

Selengkapnya »

Fanon

– catatan pengantar untuk piala dunia 2010

images1

Belum terlalu lama berselang, bumi dihuni oleh dua miliar penduduk: 500 juta adalah manusia dan 1,5 miliar sisanya penduduk pribumi yang tidak dimanusiakan. Yang pertama menciptakan kata, yang lain mengikutinya.”

Begitulah filsuf Jean Paul Sartre memulai kata pengantar untuk buku karya Frantz Fanon berjudul Bumi Berantakan (The Wretched of the Earth) yang terbit pertama kali dalam bahasa Prancis pada 1961. Karya-karya Fanon, termasuk buku tadi, banyak menginspirasi gerakan pembebasan atas kolonialisme di Afrika dalam waktu yang lama.

21 tahun setelah buku Frantz Fanon itu terbit, Aljazair (yang menjadi subyek utama buku Fanon itu) tampil di Piala Dunia 1982 dengan debut yang sangat mengesankan: mengalahkan Jerman Barat dengan skor 2-1. Dunia sepakbola terkejut, begitu juga publik dan para pemain Aljazair sendiri. Eforia melenakan mereka sehingga di laga kedua Aljazair menyerah 2-3 oleh Austria. Di laga terakhir, Aljazair kembali bangkit dengan mengandaskan Cili dengan skor 3-2. Tapi mereka tersingkir karena kalah selisih gol setelah Jerman Barat mengalahkan Austria dengan skor 1-0.

Laga antara Jerman Barat versus Austria yang digelar di Gijón itu menjadi salah satu laga paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia. Hingga 10 menit pertama, Jerman Barat yang butuh kemenangan membombardir Austria hingga akhirnya Horst Hrubesch berhasil membobol gawang Austria di menit 10. Sejak itu, tensi pertandingan tiba-tiba merosot drastis. Kedua tim seakan tak mau bermain bola. Pers di Jerman Barat, termasuk surat kabar penting Bild, menganggap laga itu sebagai hal memalukan. Ada yang menyebut laga itu sebagai “Nichtangriffspakt von Gijón” (“Non-aggression pact of Gijón”) atau “Schande von Gijón” (“The Shame of Gijón”).

Selengkapnya »

Felstead

-- karena manusia adalah mahluk (yang) bermain

Pada malam natal 1915, di desa Laventie di utara Prancis, dua kubu serdadu dari Inggris dan Jerman yang saling berhadapan dalam jarak dekat mendekam di parit pertahanannya masing-masing. Tak ada pohon natal, tak ada kalkun panggang. Lantas terjadilah satu selingan pendek yang menyentuh dalam lembaran sejarah Perang Dunia I itu: salah seorang dari mereka — mulanya dengan suara lirih — menyanyikan lagu natal, lalu ada yang iseng menyapa. Lalu, ya, lalu… mereka semua bermain bola!

Bertie Felstead, serdadu Inggris sekaligus saksi mata peristiwa yang masih sempat merasakan udara abad-21, memberi kesaksian yang menyentuh. Katanya:

“Kami dipisahkan oleh jarak yang hanya sekitar 100 yard saat pagi hari Natal itu tiba. Seorang serdadu Jerman menyanyikan lagu All Through the Night, lalu para serdadu Inggris membalasnya dengan manyanyikan lagi Good King Wencelas. Pagi berikutnya, para serdadu saling menyapa. Hello Tommy… Hello Fritz. Serdadu Jerman yang memulai, mereka keluar dari paritnya dan berjalan menghampiri kami. Tak ada yang memerintahkan, tapi kami semua memanjat dinding pembatas dan bergabung dengan mereka. Beberapa dari mereka menghisap cerutu sekaligus menawari kami cerutu. Kami juga menawarkan sebagian dari yang kami miliki. Lalu kami mengobrol. Kami berbicara dengan bahasa campur aduk. Ada yang bicara dalam Inggris, Jerman, dan Prancis… sisanya dengan bahasa isyarat. Kami semua tidak takut ditembak karena kami semua telanjur berbaur satu sama lain.”

Selengkapnya »