Jika kunjungan ke Gedung Agung, satu dari lima Istana Kepresidenan, di ujung Malioboro terjadi 3 tahun silam, mungkin saya menganggapnya sebagai napak-tilas perjalanan Larasati a.k.a Atik dan Setadewa a.k.a Teto, dua tokoh utama roman Burung-burung Manyar.
Tapi ini 2009, dua tahun setelah saya membaca buku Bianglala Sastra yang disusun oleh Robert Nieuwenhuys, juga setahun setelah saya sempat “menengok” uraian Peter Carey tentang Java-Oorlog. Dua tulisan itulah yang pertama kali memperkenalkan sosok Antoine Payen, sang arsitek Gedung Agung, kepada saya.
Jadilah kunjungan ke Gedung Agung [yang tak mungkin terjadi tanpa gerombolan Cah Andong yang entah kenapa semuanya rapi jali nan sopan] sebagai napak-tilas atas sepenggal perjalanan panjang kehidupan seorang Payen, kendati beberapa saat sebelum memasuki Gedung Agung, Muhidin M Dahlan datang membawakan Burung-burung Manyar dengan sampul hijaunya yang lawas.
Pagi itu saya datang ke Gedung Agung dari arah utara, persis seperti Si Teto bersama pasukannya mengendap-ngendap menelusuri Malioboro dalam rangka menyerbu dan mengambil alih Gedung Agung yang kala itu menjadi kantor Presiden Soekarno. Beginilah Romo Mangun mengisahkannya: (more…)
Dear,
Kupikir keteranganmu tentang cinta platonik sudah bisa kupahami. Uraianmu tentang ciuman platonik juga lumayan mudah dimengerti. Tapi, masih ada beberapa yang mengganjal. Bisakah dirimu menjelaskan pada saya perbedaan antara Nietzschean Kiss, Hegelian Kiss, Cartesian, Marxian Kiss, Machiaveliian Kiss, Darwiniain Kiss, Lord Acton Kiss, Ciuman Rumi, Ciuman Einstein dan Ciuman Hitlerian?
Sincerely
——————–
Dear,
Pertanyaanmu bagus sekali. Saya kira, departemen filsafat di semua universitas mengabaikan aktivitas ciuman sebagai sebuah kemungkinan filosofis yang bisa ditelaah dengan serius. Berikut jawaban saya, sepertiga kudapat di perpustakaan dengan melakukan studi, 2/3 hasil ngalamun di lokalisasi.
Archimedes Kiss: Para seksolog selalu mewanti-wanti pentingnya after-play setelah bercinta. Begitu juga jenis ciuman Archimedes ini. Setelah ciuman lama, kau harus merayakannya dengan spontan: telanjanglah, lantas lari kejalan sambil teriak, EUREKA EUREKA! Seakan-akan kau baru menciptakan penemuan!
Machiavellian Kiss: Ciuman boleh menghalalkan segala cara. Apa pun boleh dilakukan agar kau bisa berciuman. Tujuan menghalalkan segala jenis ciuman. Jika tujuanmu ingin mesra, sentuh lembut bibirnya. Jika tujuannya kau hendak memperkosa, kau bisa langsung to the point: ciumlah di bawah sana! (more…)
Maharaja tua itu sedang melihat sebuah peta, tapi –demikian saya bayangkan– ia hanya melihat wajahnya yang rapuh oleh waktu dan lebam oleh ketakutan-ketakutan yang tak wajar.
Diikutinya titik-titik keemasan yang menandai garis terluar dari keluasan tahtanya, tapi yang ia lihat justru telunjuknya sendiri yang gemetar tak beraturan. Telunjuk itu, bukan hanya tak lagi mampu mengarahkan balatentara di garis depan peperangan, tapi bahkan sudah terlalu lunglai hanya untuk menelusuri titik-titik yang saling-silang di peta yang terhampar di hadapannya.
Tahta, tahta, tahta…. Oh, Syiwa, kenapa tak kau katakan sedari dulu betapa merananya seorang maharaja tua di ujung hidupnya?
Maharaja itu mengusap misainya. Dan, pada setiap usapan itu, ia selalu merasa ada sehelai yang berlolosan ke lantai marmar maha indah yang bahan-bahannya didatangkan khusus dari negeri para penyembah api. Tidak, keluasan tahtanya belum lagi rontok, nusa-nusa yang jauh di atas angin dan di bawah angin belum pula khianat. Semua masih menghaturkan sembah padanya. Tapi berapa lama lagi? Tapi seberapa bentar lagi? Tapi seberapa jenak lagi? (more…)

Beberapa saat sebelum pasola berakhir, saya memungut sebatang tombak yang tergeletak di tanah.
Jam mendekati pukul dua, berarti sudah 7 jam perang lempar tombak di atas punggung kuda berlangsung. Matahari masih sangat terik. Pasola masih berlangsung, masih sengit. Para pemain pasola sering memberi aba-aba mengejek untuk memancing lawan merengsek maju. Tak ada tempat bagi kelengahan di sini. Semua mesti waspada, bahkan termasuk penonton. Seliweran tombak itu kadang terlontar ke arah penonton yang berkerumun di keempat sisi arena pasola.
Seorang tua dengan pakaian adat yang tak ikut bermain terkena tombak di dadanya. Untuk kekuatannya tak seberapa sehingga tak membuatnya luka. Saya melihatnya meringis menahan sakit, tapi ia tak mengeluh dan tak memajang tampang kesakitan. (more…)

Sumba ialah langit biru yang selalu terasa dekat dan seakan hendak runtuh-jatuh. Di Sumba, tak ada langit yang jauh, semuanya terasa dekat, segalanya tampak melekat lalu memiuh di ujung ringkik kuda yang melenguh.
Sumba ialah pantai-pantai landai dengan ombak-ombak yang dari jauh terlihat selalu melambai. Di Sumba, tak ada pantai yang ramai, semuanya terasa lengang, segalanya tampak mengembang panjang sejauh mata memandang.
Sumba adalah hamparan padang alang-alang. Di Sumba, tak ada alang-alang yang yang tak berguna: ia ada di atap rumah dan di ujung mulut kuda yang mengunyah. Alang-alang yang tak tersentuh bahkan mengabadikan sudut-sudut Sumba yang tak terjamah.
Sumbah adalah cerita tentang mulut-mulut yang tak berhenti memamah. Di Sumba, tak ada mulut yang sepi dari sirih, pinang dan tembakau yang sengat baunya hanya kalah oleh harum kayu cendana dari hutan-hutan yang basah. (more…)